Haedar Nashir Sebut Sistem Batas Jabatan Muhammadiyah Bisa Jadi Teladan Demokrasi
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa sistem pembatasan masa jabatan di Muhammadiyah dapat menjadi contoh praktik demokrasi yang sehat di Indonesia.
Hal itu disampaikan dalam kegiatan Halal Bihalal dan Silaturahmi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah di Kabupaten Batang, Sabtu (11/4/2026).
Menurut Haedar, ketentuan periodesasi kepemimpinan di Muhammadiyah telah diatur secara tegas dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART), sehingga tidak dapat ditawar.
“Saya pikir di Muhammadiyah bagus, periode jabatan itu sudah tidak bisa ditawar lagi dan itu bisa jadi contoh bagi demokrasi di negeri tercinta,” ujarnya.
Dalam aturan tersebut, masa jabatan pimpinan di seluruh tingkatan, mulai dari Pimpinan Pusat hingga Pimpinan Ranting, ditetapkan selama lima tahun. Sementara itu, jabatan Ketua Umum hanya dapat diemban maksimal dua periode berturut-turut.
Selain menyoroti tata kelola organisasi, Haedar juga menekankan pentingnya menjadikan nilai takwa sebagai akhlak publik dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menilai, keberagamaan tidak cukup berhenti pada aspek ritual, tetapi harus tercermin dalam sikap dan tindakan sosial.
Dalam pesannya kepada warga Muhammadiyah, Haedar mengajak untuk terus memperdalam pemahaman ajaran Islam secara substantif, dengan kembali pada sumber utama, yakni Al-Qur’an dan Sunah Nabi, serta mengembangkannya melalui ijtihad.
“Pendapat ulama atau qaul ulama baik pribadi maupun kolektif itu untuk meningkatkan pemahaman. Keislaman kita bersumber Al Qur’an dan Sunah Nabi, yang kemudian agama itu melahirkan pencerahan hidup. Bukan kita berbelok dari sumber nilai ajaran itu ke qaul ulama,” ungkapnya.
Ia mengingatkan, pemikiran ulama tetap memiliki keterbatasan karena dipengaruhi latar belakang dan perspektif masing-masing, sehingga umat perlu menggali ajaran Islam hingga pada substansi terdalam.
“Maka kenapa Muhammadiyah ar ruju ila Qur’an wa Sunah. Tapi jangan berhenti di situ, perdalam agama itu sehingga sampai ke jantung substansi yang paling inti,” tuturnya.
Haedar menambahkan, jika nilai takwa benar-benar diimplementasikan sebagai akhlak publik, maka Islam akan hadir sebagai sumber pencerahan yang membawa kemaslahatan bagi kehidupan umat dan masyarakat luas.
Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi sekaligus refleksi bagi Muhammadiyah dalam memperkuat peran organisasi, baik dalam tata kelola internal maupun kontribusi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.