Haedar Nashir Soroti Literasi hingga Konsistensi Kebijakan, Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Iman, Ilmu, dan Amal

Haedar Nashir Soroti Literasi hingga Konsistensi Kebijakan, Reformasi Pendidikan Harus Bertumpu pada Iman, Ilmu, dan Amal
Peluncuran buku karya Arif Jamali Muis berjudul Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan: Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia di Ruang Amphiteater A Fakultas Kedokteran Kampus IV UAD, Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa reformasi pendidikan Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan perubahan kebijakan. Menurutnya, pendidikan harus dibangun di atas fondasi kuat berupa budaya literasi, kesinambungan kebijakan, serta integrasi nilai iman, ilmu, dan amal.

Pandangan tersebut disampaikan Haedar saat peluncuran buku karya Arif Jamali Muis berjudul Dari Ruang Kelas Menuju Ruang Kebijakan: Gagasan untuk Reformasi Pendidikan Indonesia di Ruang Amphiteater A Fakultas Kedokteran Kampus IV Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Sabtu (6/6/2026).

Dalam paparannya, Haedar mengulas sejumlah isu strategis pendidikan nasional, mulai dari rendahnya budaya literasi masyarakat, pentingnya tradisi keilmuan dalam membangun peradaban, sejarah kejayaan pendidikan Islam, hingga perlunya konsistensi kebijakan pendidikan lintas pemerintahan.

Menurut Haedar, salah satu tantangan mendasar yang masih dihadapi Indonesia adalah belum kuatnya budaya membaca dan menulis di tengah masyarakat. Ia menilai kegiatan literasi belum menjadi kebiasaan yang populer dibandingkan aktivitas lain yang bersifat hiburan.

“Saya nggak tahu kenapa pada setiap kajian buku itu tidak banyak yang hadir. Boleh jadi itu karena memang tradisi literasi dan keilmuan kita yang memang belum sefavorit orang-orang yang belanja ke mall,” ujar Haedar.

Ia menegaskan bahwa tradisi menulis merupakan bagian penting dalam membangun dan merawat peradaban ilmu pengetahuan. Menurutnya, membaca dan menulis merupakan dua aktivitas yang tidak dapat dipisahkan dalam proses pengembangan intelektual.

“Kalau ingin banyak membaca, ya menulis. Dan kalau ingin baik menulis, ya membaca. Jadi, membaca dan menulis itu satu mata rantai yang tidak dapat dipisahkan,” tegasnya.

Pendidikan dan Peradaban Berjalan Beriringan

Haedar kemudian mengaitkan pentingnya literasi dengan pesan wahyu pertama Al-Qur’an, yakni Iqra’, serta pemikiran filsuf Prancis, René Descartes, yang menempatkan kemampuan berpikir sebagai dasar eksistensi manusia.

Menurut Guru Besar Sosiologi tersebut, kemajuan sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas tradisi ilmu pengetahuan yang berkembang di dalamnya. Karena itu, pendidikan sejatinya tidak hanya bertujuan mencetak lulusan, tetapi membangun peradaban.

“Allah juga telah memiliki rencana besar dengan turunnya wahyu pertama Iqra yang kemudian dilanjutkan dengan Surat Al-Mujadilah ayat 11. Maka itu memberikan pengajaran bahwa eksistensi manusia sebagai kolektif, sebagai bangsa, puncak tertingginya adalah peradaban,” jelasnya.

Belajar dari Kejayaan Peradaban Islam

Dalam kesempatan itu, Haedar juga mengajak peserta melihat kembali sejarah kejayaan peradaban Islam yang berkembang sejak abad ke-8 hingga jatuhnya Baghdad pada 1258 M akibat invasi Mongol.

Menurutnya, masa keemasan Islam melahirkan banyak ilmuwan besar di berbagai bidang, seperti astronomi, matematika, kedokteran, dan filsafat. Perkembangan tersebut didukung oleh kuatnya tradisi keilmuan yang terinstitusionalisasi melalui pusat-pusat pembelajaran dan penelitian.

“Dari abad itulah lahir ilmuwan-ilmuwan Islam yang keilmuannya melintas. Astronomi, matematika, dan seterusnya, jadi pemikir-pemikir besar lahir di era itu,” ungkapnya.

Ia menambahkan, lembaga ilmu pengetahuan seperti Baitul Hikmah menjadi fondasi berkembangnya tradisi akademik yang kemudian melahirkan berbagai universitas dan madrasah besar di dunia Islam, termasuk Al-Azhar.

Kritik terhadap Kebijakan Pendidikan yang Tidak Berkelanjutan

Membahas reformasi pendidikan nasional, Haedar menyoroti persoalan mendasar berupa sering terjadinya perubahan kebijakan akibat pergantian pemerintahan. Menurutnya, kondisi tersebut membuat banyak program pendidikan tidak berjalan secara berkesinambungan.

Ia juga mengingatkan bahwa meskipun pendidikan kerap dipahami sebagai proses pembentukan karakter, penguasaan ilmu, dan keterampilan, masyarakat masih cenderung menilai keberhasilan pendidikan hanya dari capaian akademik.

“Orang boleh banyak mengatakan, kita semua boleh mengatakan bahwa pendidikan itu harus menyeluruh ya. Harus ada kecerdasan, penguasaan ilmu, karakter, ditambah lagi sekarang teknologi. Tapi pada kenyataanya masyarakat itu selalu menuntut hasil akhir di aspek prestasi akademik,” tegasnya.

Haedar menilai kebijakan pendidikan membutuhkan kesinambungan agar tujuan besar mencerdaskan kehidupan bangsa dapat tercapai.

“Kalau setiap periode terjadi patahan yang tidak menjadi mata rantai, sampai kapan usaha mencerdaskan bangsa itu bisa terwujud dalam rumusan kebijakan-kebijakan strategis?” tambahnya.

Iman, Ilmu, dan Amal Jadi Fondasi Reformasi Pendidikan

Menutup pemaparannya, Haedar menekankan bahwa pendidikan tidak boleh berhenti pada penguasaan pengetahuan semata. Ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, ia menegaskan pentingnya trilogi iman, ilmu, dan amal sebagai fondasi pembangunan pendidikan sekaligus peradaban bangsa.

“Karena ilmu tidak cukup menjadi arahan, dia harus bisa membumi di realitasnya lewat amal yang menjadi satu kesatuan trilogi yang disebut iman, ilmu, dan amal,” pungkasnya.

Peluncuran buku karya Arif Jamali Muis tersebut turut dihadiri sejumlah tokoh pendidikan, akademisi, dan pimpinan Muhammadiyah. Forum ini menjadi ruang refleksi mengenai arah reformasi pendidikan Indonesia di tengah tantangan perubahan zaman yang semakin kompleks.