Haedar Nashir: Spirit Pembaruan Ahmad Dahlan Harus Menjadi Fondasi Pendidikan Kader Muhammadiyah

Haedar Nashir: Spirit Pembaruan Ahmad Dahlan Harus Menjadi Fondasi Pendidikan Kader Muhammadiyah
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam Haflah Takharruj Siswa Kelas VI Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di UNISA Convention Hall, Yogyakarta, Ahad (10/5/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan spirit pembaruan yang diwariskan KH Ahmad Dahlan harus menjadi fondasi utama dalam membangun pendidikan kader Muhammadiyah yang berkemajuan dan mampu menjawab tantangan zaman.

Pesan itu disampaikan Haedar dalam Haflah Takharruj Siswa Kelas VI Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta Tahun Ajaran 2025/2026 yang digelar di UNISA Convention Hall, Yogyakarta, Ahad (10/5/2026).

Menurut Haedar, Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat Muhammadiyah merupakan embrio pendidikan kader yang lahir langsung dari gagasan dan perjuangan KH Ahmad Dahlan. Karena itu, kedua lembaga tersebut harus terus menjadi model pendidikan Islam modern yang relevan dengan perkembangan masyarakat.

“Jejak sejarah dan figur KH Ahmad Dahlan menjadi rujukan utama lahirnya Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimaat. Bahkan dari tangan beliau lah embrio lahirnya dua madrasah tercinta ini,” ujarnya.

Haedar menggambarkan KH Ahmad Dahlan sebagai sosok pembaru yang berani melampaui arus utama pemikiran pada zamannya. Melalui gagasan progresifnya, pendiri Muhammadiyah itu dinilai berhasil menghadirkan orientasi baru dalam gerakan Islam dan pendidikan di Indonesia.

“Saya mengilustrasikan KH Ahmad Dahlan seperti burung rajawali yang selalu terbang tinggi dan menghadirkan energi perubahan di setiap tempat yang disinggahinya,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, semangat pembaruan tersebut tercermin dalam gerakan sosial Muhammadiyah yang tumbuh dari pemahaman terhadap Surah Al-Ma’un. Dari spirit itu, Muhammadiyah kemudian mengembangkan berbagai layanan sosial modern, mulai dari rumah sakit, rumah yatim, pelayanan sosial masyarakat, hingga lembaga pendidikan.

Di hadapan para lulusan, Haedar juga berpesan agar tradisi thalabul ilmi terus dijaga. Menurutnya, semangat menuntut ilmu menjadi faktor penting dalam meningkatkan martabat pribadi maupun institusi.

Ia mengutip Surah Al-Mujadilah ayat 11 yang menegaskan bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang beriman dan berilmu.

“Siapapun yang terus menambah dirinya dengan ilmu dan iman, martabat derajatnya akan naik,” kata Haedar.

Selain itu, Haedar menyebut Muhammadiyah saat ini memperoleh tingkat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat, baik di tingkat nasional maupun internasional. Kepercayaan tersebut, menurutnya, harus dijaga dan dilanjutkan oleh kader-kader muda Muhammadiyah.

“Alhamdulillah Muhammadiyah sekarang mendapat trust yang tinggi dari masyarakat luas, di dalam maupun luar negeri. Maka kalian harus menjadi mata rantai dari ‘anak panah’ Muhammadiyah yang terus membawa Muhammadiyah makin berkemajuan,” ujarnya.

Menjelang akhir amanatnya, Haedar mengingatkan para wisudawan untuk tetap menjunjung birrul walidain, aktif dalam gerakan Muhammadiyah, serta mengambil peran nyata dalam kehidupan keumatan, kebangsaan, dan kemanusiaan.

“Eksistensi seseorang bukan pada kebesaran dirinya tetapi pada peran dirinya di tengah lingkungan,” pungkasnya.

Haflah Takharruj Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta tahun ini menjadi momentum peneguhan kembali misi pendidikan kader Muhammadiyah. Melalui lembaga kader seperti Mu’allimin dan Mu’allimaat, Muhammadiyah terus menyiapkan generasi yang unggul dalam ilmu pengetahuan, kuat dalam iman, memiliki jiwa kepemimpinan, serta peka terhadap persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan.