Inilah Kepribadian Muhammadiyah dalam Mengelola Amal Usaha yang Beradab dan Berkemajuan

Inilah Kepribadian Muhammadiyah dalam Mengelola Amal Usaha yang Beradab dan Berkemajuan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara Darul Arqom Badan Pembina Harian (BPH) Penyelenggara dan Direksi RS Muhammadiyah Aisyiyah se-Indonesia Batch ke-5, Rabu (1/10). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir menyampaikan tentang Kepribadian Muhammadiyah dalam mengelola Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang beradab dan berkemajuan.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kepribadian Muhammadiyah tak lepas dari nilai yang menjadi dasar berharga yang membentuk kepribadian dan mengaktualkan dakwahnya dalam aksi nyata.

“Kalau kita bicara kepribadian Muhammadiyah itu tidak lepas dari value yang menjadi dasar berharga yang membentuk kepribadian dan di aktualisasikan dalam sistem, alam pikiran, kemudian sampai pada tindakan,” jelas Haedar dalam acara Darul Arqom Badan Pembina Harian (BPH) Penyelenggara dan Direksi RS Muhammadiyah Aisyiyah se-Indonesia Batch ke-5, Rabu (1/10).

Dalam mewujudkan dakwah yang nyata, Haedar menekankan tentang tauhid sebagai fondasi utama dalam gerakan Muhammadiyah.

Dia menjelaskan, prinsip tauhid di Muhammadiyah diwujudkan bukan hanya sekedar urusan hablum minallah (hubungan manusia dengan Allah), namun juga berimplokasi pada hubungan sosial, antar sesama manusia.

“Tauhid itu mengesakan Allah dan tidak menyekutukan-Nya. Tauhid di Muhammadiyah bukan sekadar hablum minallah saja, namun lebih dari itu, juga hablum minannas. Artinya, tauhid ini menjadi dasar dalam kita membangun peradaban sosial, dan menghadirkan kemaslahatan,” ungkap Haedar.

Maka dari itu, Haedar mendorong untuk senantiasa menghidupkan ijtihad dan tajdid (pembaruan). Menurutnya, Muhammadiyah tak boleh berhenti pada rutinitas semata, namun juga senantiasa melakukan pembaruan pemikiran dan praksis sosial agar tetap relevan menjawab tantangan zaman.

Selanjutnya, Haedar juga menjelaskan pentingnya mengembangkan sikap washatiyah (moderat) dalam gerakan ber Muhammadiyah. Washatiyah dalam hal ini ialah melakukan tindakan dan ajaran yang tidak dilebih-lebihkan dan tidak dikurang-kurangkan.

“Beragama dalam Muhammadiyah itu adalah washatiyah atau tengahan, yang mana dalam melakukan gerakannya Muhammadiyah tidak boleh berlebih-lebihan dan tidak mengurang-ngurangkan. Dalam hal ini, maka penting bagi kita untuk memiliki ilmu dan mengetahui konteks atas berbagai macam hal,” ujarnya.

Untuk mewujudkan AUM yang beradab dan berkemajuan, Haedar berpesan bahwa Muhammadiyah harus hadir untuk memberikan rahmat bagi alam semesta.

Ia menyebut bahwa memberikan rahmat bagi alam semesta merupakan satu bagian dari ajaran agama yang perlu ditingkatkan.

“Ada banyak dimensi dalam kehidupan kita yang menyangkut sistem kehidupan yang luas. Islam ini bukan sekadar hitam dan putih saja, benar dan salah saja, namun juga soal bagaimana kita mengelola dunia dengan penuh kebijakan dan keberadaban. Maka, kita harus memiliki ilmu itu supaya Muhammadiyah dapat terus kokoh menggerakkan Amal Usaha kita yang berkemajuan,” pesan Haedar.