Irwan Akib: Kedaulatan Indonesia Harus Dibangun dari Kemandirian Ekonomi dan Pendidikan
TVMU.TV - Perubahan teknologi membuat batas antara ruang fisik dan digital semakin kabur. Di tengah pergeseran tersebut, Indonesia dinilai perlu memperkuat kedaulatan agar tidak terjebak dalam bentuk kolonialisme baru yang memanfaatkan ketergantungan terhadap teknologi dan sumber daya digital.
Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Irwan Akib mengatakan tantangan kedaulatan pada era digital tidak lagi hanya berkaitan dengan penguasaan wilayah secara fisik. Kedaulatan juga menyangkut kemampuan bangsa mengelola ekonomi, pendidikan, teknologi, serta sumber daya digital secara mandiri.
Menurut Irwan, fondasi menghadapi ancaman kolonialisme modern sebenarnya telah diletakkan oleh KH Ahmad Dahlan melalui gagasan tentang kemandirian umat. Kemandirian tersebut dibangun dari penguatan pendidikan dan ekonomi masyarakat.
“Beliau membuktikan bahwa sebuah bangsa tidak akan pernah dihormati atau benar-benar berdaulat di mata dunia jika urusan domestik, ekonomi, dan pendidikan dasarnya masih bergantung penuh pada belas kasihan bangsa lain,” tulis Irwan pada Sabtu (15/8).
Irwan menjelaskan, konsep kedaulatan pada masa kini tidak dapat lagi dipahami secara absolut atau hanya berdasarkan batas wilayah. Perkembangan teknologi informasi telah melahirkan ruang siber yang mempertemukan kehidupan digital dengan realitas fisik.
Batas-batas teritorial pun semakin tidak menjadi satu-satunya penentu kekuatan sebuah negara. Data, teknologi, dan kemampuan menguasai ekosistem digital menjadi bagian penting dari daya tawar suatu bangsa.
Jika tidak diantisipasi, kata Irwan, ketergantungan tersebut berpotensi menempatkan Indonesia dalam posisi yang hanya menjadi pengguna teknologi sekaligus pemasok data bagi kepentingan ekonomi global.
Karena itu, ia mengajak masyarakat kembali mendalami semangat kemandirian yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Menurutnya, upaya menjaga kedaulatan harus dimulai dari pencerdasan masyarakat dan penguatan ekonomi dari tingkat paling dasar.
“Beliau meyakini bahwa kedaulatan bangsa harus dimulai dari akar rumput, yaitu kedaulatan ekonomi keluarga dan masyarakat. Hal ini diwujudkan melalui penguatan jaringan saudagar lokal (syarikat dagang) guna membiayai gerakan sosial-pendidikan secara swadaya tanpa ketergantungan pada dana kolonial,” katanya.
Kemandirian Jadi Fondasi Kedaulatan
Bagi Irwan, gagasan tersebut masih relevan untuk menghadapi tantangan Indonesia saat ini. Kemandirian tidak hanya berarti mampu memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga memiliki kemampuan untuk menentukan arah pembangunan tanpa ketergantungan berlebihan kepada pihak lain.
“Spirit inilah yang menjadi esensi sejati dari kedaulatan, yaitu mandiri dalam berpikir, berdikari dalam bertindak,” imbuhnya.
Semangat tersebut, menurut Irwan, perlu diterjemahkan dalam agenda pembangunan menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi global.
Ia menilai Indonesia perlu meningkatkan kapasitas sebagai produsen, termasuk dalam penguasaan teknologi, pengelolaan data, pengembangan sumber daya manusia, dan penguatan rantai pasok.
Dengan demikian, kedaulatan di era digital bukan sekadar persoalan mempertahankan batas wilayah, melainkan kemampuan bangsa menguasai pengetahuan, teknologi, ekonomi, dan sumber daya strategisnya sendiri.
Bagi Irwan, cita-cita Indonesia Emas 2045 harus diarahkan pada terbentuknya bangsa yang mampu berdiri di atas kekuatan sendiri sekaligus aktif menjadi pemain dalam ekosistem global.