Jelang KUII VIII, MUI Susun Peta Jalan Geopolitik Umat 2026-2030 untuk Perkuat Peran Indonesia di Tengah Tatanan Dunia Multipolar
TVMU.TV - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mulai mematangkan substansi Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) VIII yang akan digelar di Jakarta pada akhir Juli 2026. Salah satu fokus utama yang disiapkan adalah penyusunan Peta Jalan Geopolitik Umat 2026-2030 sebagai panduan kontribusi umat Islam Indonesia dalam merespons perubahan tatanan global, memperjuangkan keadilan Palestina, serta memperkuat peran Indonesia dalam diplomasi perdamaian dunia.
Pembahasan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Geopolitik dan Tatanan Dunia Baru yang diselenggarakan Kelompok Kerja Geopolitik KUII VIII di Kantor MUI Pusat, Jakarta, Kamis (25/6/2026). FGD diikuti sekitar 45 peserta dari kementerian, diplomat, akademisi, lembaga filantropi, organisasi kemanusiaan, dan lembaga kajian strategis.
Sekretaris Jenderal MUI, Amirsyah Tambunan, mengatakan penyelenggaraan KUII VIII berlangsung pada momentum yang tepat ketika dunia menghadapi ketidakpastian geopolitik yang semakin kompleks, mulai dari konflik Timur Tengah hingga perubahan konfigurasi kekuatan global menuju sistem multipolar.
Menurutnya, KUII VIII akan membahas dua agenda besar, yakni penguatan umat (taqwiyatul ummah) dan penguatan kedaulatan bangsa (siyadat ad-daulah) dalam konteks politik internasional.
“Indonesia memiliki modal strategis untuk memainkan peran lebih besar dalam diplomasi internasional. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan berkedudukan sebagai middle power, Indonesia memiliki peluang menjadi jembatan dialog dan perdamaian di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global,” ujar Amirsyah.
Ia menegaskan bahwa Indonesia perlu tampil sebagai jembatan perdamaian dunia dengan dukungan negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) melalui dialog, kerja sama, dan pembangunan peradaban global yang berkeadilan.
Dunia Bergerak ke Tatanan Multipolar
Ketua Kelompok Kerja Geopolitik dan Tatanan Dunia Baru KUII VIII, Prof. Sudarnoto Abdul Hakim, menjelaskan bahwa dunia saat ini tidak lagi bertumpu pada satu pusat kekuatan global. Persaingan kini meluas ke sektor energi, teknologi, kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, hingga penguasaan data.
Dalam situasi tersebut, kata Sudarnoto, umat Islam menghadapi sejumlah tantangan serius, mulai dari penjajahan terhadap Palestina, meningkatnya Islamofobia di berbagai negara, hingga ketimpangan global yang masih terjadi.
“Isu Palestina tetap merupakan perhatian dan keprihatinan dunia, bahkan menjadi poros moral dan kemanusiaan bagi perjuangan kemerdekaan bangsa Palestina,” ujarnya.
Ia menilai Indonesia memiliki posisi strategis sebagai negara Muslim terbesar yang dapat memainkan peran diplomatik, intelektual, dan kemanusiaan dalam mendorong terciptanya perdamaian global.
Palestina Tetap Jadi Prioritas
Dalam diskusi tersebut, sejumlah narasumber menegaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina harus diperkuat tidak hanya melalui bantuan kemanusiaan, tetapi juga lewat diplomasi internasional dan advokasi hukum global.
Mantan Duta Besar RI untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Prof. Makarim Wibisono, menegaskan bahwa Palestina tetap menjadi poros moral dan geopolitik umat Islam Indonesia.
“Dukungan Indonesia tidak cukup berhenti pada bantuan kemanusiaan, tetapi perlu diperkuat melalui diplomasi, advokasi hukum internasional, dukungan terhadap proses ICC dan ICJ, serta konsolidasi OKI, D-8, GNB, dan Global South,” katanya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII), Philips Vermonte, menilai dunia saat ini bergerak menuju multipolaritas sehingga Indonesia perlu melakukan rekalibrasi politik luar negeri bebas aktif.
Menurutnya, Indonesia dapat memainkan peran sebagai bridge-state yang menjembatani berbagai kepentingan global, termasuk dalam memperjuangkan isu Palestina dan melawan Islamofobia.
KUII VIII Akan Hasilkan Dokumen Strategis
FGD juga menyepakati bahwa KUII VIII harus menghasilkan dokumen yang lebih fokus, berbasis data, dan dapat diimplementasikan. Beberapa isu utama yang akan menjadi perhatian meliputi Palestina dan keadilan global, Islamofobia, geoekonomi umat, kecerdasan buatan dan kedaulatan digital, serta penguatan posisi Indonesia di OKI dan Global South.
Untuk mendukung agenda tersebut, MUI berencana menyusun Peta Jalan Geopolitik Umat 2026-2030 yang akan menjadi salah satu rekomendasi strategis KUII VIII.
Dokumen itu nantinya memuat arah kebijakan dan langkah konkret umat Islam Indonesia dalam menghadapi perubahan geopolitik global sekaligus memperluas kontribusi Indonesia bagi perdamaian dan keadilan dunia.
FGD juga menekankan pentingnya peningkatan literasi geopolitik di kalangan masyarakat. Kampus, pesantren, masjid, media, organisasi kemasyarakatan, hingga kelompok kepemudaan dinilai perlu menjadi ruang edukasi agar masyarakat mampu memahami dinamika global secara lebih kritis.
Melalui KUII VIII, MUI berharap umat Islam Indonesia tidak hanya menjadi penonton perubahan dunia, tetapi tampil sebagai kekuatan moral, intelektual, diplomatik, dan sosial-ekonomi yang berkontribusi dalam membangun tatanan dunia yang lebih adil, damai, dan berkeadaban.