Kisah Bir Ali, Saat Jemaah Haji Indonesia Diminta Tetap Memakai Sandal di Dalam Masjid

Kisah Bir Ali, Saat Jemaah Haji Indonesia Diminta Tetap Memakai Sandal di Dalam Masjid
Foto: Ilustrasi.

TVMU.TV - Jemaah haji Indonesia kerap menemukan pengalaman berbeda saat singgah di Masjid Bir Ali, Madinah, sebelum melanjutkan perjalanan menuju Makkah. Di lokasi miqat ini, jemaah justru diminta tetap mengenakan sandal saat memasuki area masjid dan baru melepasnya ketika mendekati karpet salat.

Kebiasaan tersebut berbeda dengan praktik di Indonesia, di mana jamaah umumnya melepas alas kaki sebelum masuk masjid. Perbedaan inilah yang kerap menjadi pengalaman unik bagi jemaah haji Indonesia, khususnya mereka yang baru pertama kali menunaikan ibadah ke Tanah Suci.

Salah seorang Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 bidang Perlindungan Jemaah di Bir Ali, Kiki, mengatakan petugas hampir selalu mengingatkan jemaah mengenai ketentuan tersebut.

“Jemaah Indonesia itu sopan-sopan, mereka masuk masjid pasti buka sandal. Namun karena di sini berbeda, setiap masuk kami harus ingatkan agar sandal tetap dipakai, dan baru dibuka di dekat tempat saf salat,” tutur Kiki di Bir Ali, Selasa (6/5/2026).

Masjid Bir Ali merupakan salah satu titik miqat makani bagi jemaah haji Indonesia gelombang pertama yang bergerak dari Madinah menuju Makkah. Di tempat ini, jemaah mengambil niat ihram dan menunaikan salat sunnah sebelum melanjutkan perjalanan untuk umrah wajib.

Di balik momen itu, Kiki mengaku banyak pengalaman yang membekas, terutama saat mendampingi jemaah lanjut usia. Menurutnya, tidak sedikit jemaah lansia yang sebenarnya telah disarankan tetap berada di dalam bus demi alasan kesehatan dan keselamatan. Namun, semangat mereka untuk menyempurnakan rangkaian ibadah tetap tinggi.

Banyak jemaah lansia merasa telah menunggu panggilan haji selama bertahun-tahun. Karena itu, mereka enggan melewatkan kesempatan untuk menunaikan salat sunnah ihram langsung di Masjid Bir Ali.

Melihat antusiasme tersebut, petugas PPIH berupaya memberikan pendampingan maksimal. Bantuan diberikan mulai dari mendorong kursi roda, memapah saat berjalan, hingga memastikan jemaah dapat beribadah dengan nyaman dan aman.

“Mbah, nenek, ibu, mama tidak boleh sedih. Kita di sini akan membantu untuk bisa salat sunnah. Yang penting bapak, ibu, jemaah yang lain di sini semuanya happy, senang, ibadahnya lancar. Kita pasti siap membantu,” lirihnya.

Selain bantuan fisik, petugas juga memberikan pendampingan emosional. Kiki mengatakan sebagian jemaah lansia kerap merasa sungkan meminta bantuan karena khawatir merepotkan petugas. Padahal, menurutnya, membantu jemaah merupakan bagian dari amanah pelayanan selama musim haji.

“Kami selalu menyampaikan kepada para mbah, nenek, ibu, dan bapak, jangan merasa sungkan atau sedih. Apa pun yang dibutuhkan, laporkan kepada petugas. Kami siap membantu seluruh rangkaian ibadah sampai selesai,” tuturnya.

Menurut Kiki, interaksi dengan jemaah lansia menjadi pengalaman paling menyentuh selama bertugas di Bir Ali. Keterbatasan fisik yang mereka miliki justru tidak mengurangi semangat untuk memenuhi panggilan ibadah ke Tanah Suci.

Pemandangan tersebut, kata dia, menjadi pengingat kuat tentang besarnya kerinduan umat Islam untuk menunaikan ibadah haji.

Setelah mengambil miqat di Bir Ali, jemaah haji Indonesia melanjutkan perjalanan menuju Makkah untuk melaksanakan umrah wajib. Rangkaian itu menjadi bagian awal dari pelaksanaan ibadah haji sebelum puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. (Fini Auliany/ MCH 2026)