Lazismu Dorong Distribusi Dam Haji dan Kurban Tepat Sasaran untuk Atasi Ketimpangan Gizi

Lazismu Dorong Distribusi Dam Haji dan Kurban Tepat Sasaran untuk Atasi Ketimpangan Gizi
Lazismu terus memperkuat program distribusi dam haji dan kurban agar lebih tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Muhammadiyah melalui Lazismu terus memperkuat program distribusi dam haji dan kurban agar lebih tepat sasaran, khususnya bagi masyarakat di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Langkah ini dinilai menjadi bagian dari upaya memperluas manfaat sosial ibadah sekaligus membantu mengatasi ketimpangan gizi masyarakat.

Komitmen tersebut mengemuka dalam agenda Ziska Talk Spesial Qurban: Kupas Tuntas Fikih Dam Haji dan Praktik Baik Qurbanmu Bahagiakan Sesama yang digelar di Studio TVMu, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Direktur Penghimpunan Lazismu Pusat, Mochammad Sholeh Farabi, mengatakan program distribusi kurban lahir dari keprihatinan atas menumpuknya distribusi daging kurban di kawasan perkotaan, sementara banyak daerah lain justru minim akses terhadap protein hewani.

“Kami melihat ada fenomena penumpukan daging kurban di wilayah perkotaan, terutama di kalangan masyarakat menengah ke atas yang rutin berkurban di lingkungan masjid sekitar. Akibatnya, distribusi daging jatuh ke masyarakat yang tergolong mampu,” ujar Farabi.

Menurutnya, Lazismu kini mengarahkan distribusi kurban ke daerah dengan tingkat konsumsi daging rendah, kawasan terpencil, hingga wilayah terdampak bencana. Program tersebut juga menjadi bagian dari gerakan pemerataan manfaat kurban agar lebih dirasakan masyarakat yang membutuhkan.

Farabi mencontohkan sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang selama ini dikenal sebagai sentra peternakan sapi nasional, namun masyarakatnya justru masih memiliki tingkat konsumsi daging yang rendah.

Karena itu, melalui program “Qurbanmu Bahagiakan Sesama”, Lazismu mendorong distribusi daging kurban dan dam haji agar menjangkau penerima manfaat lebih luas, termasuk masyarakat miskin dan wilayah dengan persoalan stunting.

Selain memperluas distribusi, Lazismu juga memastikan pengelolaan hewan kurban dilakukan secara profesional, transparan, dan ramah lingkungan. Mulai dari pengadaan hewan, proses pemotongan, pengemasan, hingga penyaluran dilakukan sesuai standar yang berlaku.

Sementara itu, Anggota Divisi Fatwa dan Pengembangan Tuntunan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Asep Shalahudin, menjelaskan fatwa pengalihan dam haji ke Tanah Air lahir melalui kajian mendalam selama empat tahun sejak 2022.

Menurut Asep, fatwa tersebut mempertimbangkan berbagai aspek kemaslahatan, termasuk persoalan lingkungan akibat penyembelihan dam dalam jumlah besar di Arab Saudi serta belum optimalnya distribusi manfaat daging.

“Secara definisi Dam adalah penyembelihan kambing, sapi atau unta yang diwajibkan bagi seorang jamaah haji dikarenakan adanya beberapa sebab atau hal yang melatarbelakanginya,” jelas Asep.

Ia menambahkan, Indonesia masih menghadapi persoalan kemiskinan dan rendahnya akses protein hewani di sejumlah daerah. Karena itu, pengalihan dam ke Indonesia dinilai dapat menghadirkan manfaat sosial yang lebih besar tanpa meninggalkan nilai syariah.

Dalam diskusi tersebut, Pemimpin Redaksi Tirto, Rachmadin Ismail, turut menyoroti ketimpangan konsumsi daging merah di Indonesia. Menurutnya, distribusi kurban yang tepat sasaran dapat membantu memperbaiki kualitas gizi masyarakat, terutama di wilayah Indonesia Timur.

“Di satu sisi mereka menghasilkan sapi, tetapi di sisi lain tingkat konsumsi daging masyarakatnya justru rendah,” ujarnya.

Rachmadin menilai momentum Iduladha dapat menjadi sarana memperkuat pemerataan konsumsi protein hewani nasional, mengingat kandungan zat besi dan vitamin pada daging memiliki peran penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak.

Di sisi lain, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (Uhamka), Faozan Amar, menekankan pentingnya strategi penghimpunan dan segmentasi calon pekurban agar program kurban berjalan efektif.

“Siapa sasaran calon pekurban, apakah dari kalangan menengah atas, menengah, atau menengah bawah. Dari situ kita bisa mengetahui sikap, perilaku, serta kebiasaan mereka sehingga pendekatan yang dilakukan menjadi tepat,” katanya.

Melalui berbagai program tersebut, Lazismu berharap ibadah kurban dan dam haji tidak hanya menjadi ritual keagamaan, tetapi juga mampu memperkuat solidaritas sosial, pemerataan pangan bergizi, serta pemberdayaan masyarakat di berbagai daerah Indonesia.