Mahasiswa UMSU Kembangkan Tetes Mata Nanopartikel Emas Atasi Komplikasi Diabetes pada Mata

Mahasiswa UMSU Kembangkan Tetes Mata Nanopartikel Emas Atasi Komplikasi Diabetes pada Mata
Tim mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan UMSU berhasil mengembangkan tetes mata inovatif yang dapat mencegah kerusakan retina pada penderita diabetes. Foto: UMSU.

TVMU.TV - Kabar menggembirakan datang dari dunia kesehatan. Sebuah tim mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) berhasil mengembangkan tetes mata inovatif yang dapat mencegah kerusakan retina pada penderita diabetes.

Inovasi ini menggunakan nanopartikel emas dari ekstrak daun murbei (Morus alba L.) yang dikemas dalam program penelitian PKM-RE yang didanai Kemdiktisaintek.

Dikembangkan selama empat bulan sejak Juli, hingga Oktober 2025 oleh lima mahasiswa berbakat—Zahra Ramadhani, Demi Cinta Cantika Syahputri, Dzaki Ahmad Lubis, Husnul Fikri, dan Setia Nurhidayah—tetes mata ini menawarkan harapan baru bagi penderita retinopati diabetik, komplikasi serius diabetes yang dapat menyebabkan kebutaan.

Zahra Ramadhani selaku Ketua Tim Peneliti menjelaskan potensi terapi ini.

“Dari hasil uji in-vivo, pemberian tetes mata berbasis nanopartikel emas terbukti menurunkan kerusakan retina, memperbaiki struktur jaringan, serta mengurangi risiko peradangan,” kata Zahra di Medan, Jumat (3/10).

Ia menjelaskan, efek protektif ini diperoleh dari kandungan 1-deoxynojirimycin (DNJ) dan polifenol murbei yang mampu menekan stres oksidatif serta menghambat enzim Protein Kinase C (PKC) β dan δ—penyebab utama kerusakan pembuluh darah retina penderita diabetes.

“Dengan pendekatan nanoteknologi, senyawa aktif lebih mudah diserap jaringan mata dan bekerja langsung pada area terdampak. Terapi ini lebih nyaman dibanding suntikan intravitreal yang sering menimbulkan rasa sakit dan efek samping,” tambah Zahra.

Retinopati diabetik diketahui sebagai salah satu penyebab kebutaan utama di dunia. Temuan ini, menurut Zahra, menjadi peluang besar pengembangan terapi non-invasif, aman, dan efektif bagi jutaan pasien diabetes.

“Meski masih tahap penelitian, kami berharap inovasi ini segera melangkah ke uji klinis agar dapat dimanfaatkan secara luas,” ujarnya.