Mahasiswi Kristen Asal Tapanuli Utara Ungkap Pengalaman Toleransi di UMSU
TVMU.TV - Momen Wisuda Periode I Tahun 2026 Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara (UMSU) menghadirkan kisah inspiratif tentang toleransi dan keberagaman. Gabriel Lydia Hotmaida Sianturi, wisudawati beragama Kristen asal Siborongborong, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatera Utara, mengungkapkan pengalaman positifnya selama menempuh pendidikan di kampus Muhammadiyah.
Di hadapan para wisudawan, sivitas akademika, dan tamu undangan pada Rabu (24/6), Gabriel menyampaikan bahwa selama empat tahun kuliah di UMSU, ia merasakan lingkungan akademik yang menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.
“Berdirinya saya di sini untuk membuktikan bahwa Muhammadiyah sangat toleran dan menghargai perbedaan,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi sorotan dalam rangkaian Wisuda Periode I UMSU yang berlangsung di Medan. Gabriel mengaku sempat diliputi keraguan saat memutuskan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi berbasis Islam tersebut. Kekhawatiran muncul karena dirinya berasal dari keluarga Kristen yang aktif dalam kegiatan keagamaan.
Menurut Gabriel, pertanyaan mengenai pilihannya berkuliah di UMSU kerap datang dari keluarga maupun lingkungan sekitarnya.
“Mengapa Muhammadiyah?” ujarnya menirukan pertanyaan yang sering diterimanya.
Ia menjelaskan bahwa sebelum menjadi mahasiswa, dirinya telah aktif sebagai guru Sekolah Minggu di gereja. Kondisi itu membuat sebagian orang mempertanyakan keputusannya memilih kampus Muhammadiyah dibanding perguruan tinggi lain.
“Karena sebelum masuk kuliah, saya yang merupakan guru Sekolah Minggu. Kalau di agama saudara yang muslim sama dengan guru ngaji,” ungkapnya.
Namun, seluruh kekhawatiran tersebut, menurut Gabriel, tidak terbukti. Selama menjalani pendidikan di UMSU, ia merasa diterima dengan baik dan tidak pernah mengalami perlakuan diskriminatif karena perbedaan keyakinan.
“Namun kekhawatiran itu terbantahkan, saya disambut dengan hangat dan tidak pernah merasa dibedakan. Terbukti bahwa orang tua saya mempercayakan dua anaknya untuk kuliah di Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara,” tuturnya.
Lebih jauh, Gabriel menilai lingkungan kampus justru menjadi ruang untuk belajar memahami keberagaman. Ia merasakan bahwa perbedaan tidak dijadikan alasan untuk membangun sekat, melainkan menjadi sarana memperluas wawasan dan memperkaya perspektif.
“Dan Puji Tuhan, saya sampai saat ini masih Kristen. Dan semakin kuat iman saya. Percayalah ini bukan sekadar kata-kata yang saya rangkai untuk sebuah pidato wisuda. Tapi ini pengalaman yang benar-benar saya rasakan,” katanya.
Menurutnya, seluruh mahasiswa di UMSU mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang, berprestasi, dan mengaktualisasikan diri tanpa memandang latar belakang agama maupun suku.
Gabriel juga mengaku merasakan secara langsung nilai Islam berkemajuan yang menjadi ciri khas Muhammadiyah, khususnya semangat menghadirkan kemaslahatan bagi seluruh manusia.
“Hari ini saya Gabriel berdiri di atas panggung Universitas Muhammadiyah Sumatra Utara bukan sebagai pengecualian, tetapi sebagai bukti bahwa pendidikan yang sesungguhnya selalu punya ruang bagi semua manusia,” tutup Gabriel.
Kisah Gabriel menjadi salah satu potret keberagaman di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA), yang selama ini membuka akses pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai latar belakang agama, suku, dan budaya. Pengalaman tersebut sekaligus menegaskan komitmen UMSU dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif, toleran, dan berorientasi pada kualitas sumber daya manusia.