Majelis Diktilitbang Optimistis PTMA Mampu Bersaing, 21 Kampus Raih Akreditasi Unggul

Majelis Diktilitbang Optimistis PTMA Mampu Bersaing, 21 Kampus Raih Akreditasi Unggul
Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin

TVMU.TV - Muhammadiyah terus memperkuat komitmennya menghadirkan pendidikan tinggi berkualitas melalui jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA).

Di tengah masih adanya anggapan bahwa perguruan tinggi swasta berada di bawah perguruan tinggi negeri, Muhammadiyah menegaskan bahwa kualitas kampus seharusnya diukur dari capaian dan kontribusi yang dihasilkan, bukan dari status kelembagaannya.

Hal itu disampaikan Sekretaris Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian, dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Muttaqin, dalam tayangan podcast yang disiarkan Muhammadiyah Channel seperti dikutip tvMu, Jumat (26/6).

Menurut Muttaqin, PTMA telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam peningkatan mutu pendidikan. Hingga saat ini, sebanyak 21 PTMA berhasil meraih akreditasi unggul dari total 164 PTMA yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

“PTMA yang berakreditasi unggul sudah mencapai 21 perguruan tinggi dari total 164 PTMA. Jumlah itu sangat menggembirakan karena setara dengan sekitar 9 persen jika dilihat dalam skala nasional,” ujarnya.

Capaian tersebut, kata dia, menjadi bukti bahwa perguruan tinggi swasta mampu bersaing dan memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan sumber daya manusia Indonesia.

Selain meningkatkan kualitas akademik, Muhammadiyah juga terus memperluas akses pendidikan tinggi, terutama di wilayah yang belum terjangkau oleh perguruan tinggi lain. Kehadiran PTMA di berbagai daerah dinilai menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah mewujudkan pemerataan pendidikan tinggi yang inklusif.

“Pemerintah daerah sangat senang dan memberikan dukungan penuh kepada PTMA. Alhamdulillah, respons masyarakat juga sangat baik,” kata Muttaqin.

Untuk memperluas akses bagi calon mahasiswa, Muhammadiyah meluncurkan program Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (SBMPTMU) sejak 1 Januari. Program tersebut memungkinkan calon mahasiswa mendaftar ke berbagai PTMA secara lebih mudah tanpa harus datang langsung ke kampus tujuan.

Menurut Muttaqin, penguatan pendidikan tinggi juga dilakukan melalui pembangunan ekosistem pendidikan Muhammadiyah yang terintegrasi, mulai dari sekolah, pesantren, hingga perguruan tinggi.

“Kita berharap bisa tumbuh bersama Amal Usaha Muhammadiyah di bidang pendidikan, baik sekolah maupun pesantren, sehingga terbentuk ekosistem yang saling menguatkan. Ini sebenarnya sudah berjalan, tetapi perlu terus dimaksimalkan,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah PTMA saat ini telah memperoleh berbagai pengakuan internasional, baik melalui akreditasi maupun pemeringkatan global. Hal tersebut menunjukkan bahwa kualitas perguruan tinggi Muhammadiyah mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Karena itu, Muttaqin mengajak masyarakat untuk tidak lagi memandang kualitas pendidikan berdasarkan status negeri atau swasta semata. Menurutnya, yang lebih penting adalah mutu pembelajaran, kualitas lulusan, serta kontribusi kampus terhadap masyarakat.

“Pendidikan harus dipandang setara, terlepas dari status negeri atau swastanya. PTMA hadir untuk menjawab kebutuhan itu,” pungkasnya.

Saat ini, PTMA merupakan salah satu jaringan perguruan tinggi swasta terbesar di Indonesia dengan lebih dari 160 institusi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Keberadaan PTMA menjadi bagian dari kontribusi Muhammadiyah dalam memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus mencetak sumber daya manusia yang unggul, berkemajuan, dan berdaya saing global.