Majelis Tarjih dan Tajdid Tekankan Integrasi Dalil Syariat dan Sains BMKG Hadapi Kekeringan
TVMU.TV - Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. H. Wawan Gunawan Abdul Wahid, M.Ag., mengajak warga Persyarikatan untuk memahami tata cara pelaksanaan salat istisqa (salat memohon hujan) secara komprehensif melalui pembacaan dalil secara utuh serta penerapan terpadu Manhaj Tarjih.
Pesan keagamaan dan metodologis tersebut disampaikan Wawan dalam perhelatan Pengajian Tarjih secara daring dari Yogyakarta pada Rabu, 21 Oktober 2026.
Wawan menegaskan bahwa pembahasan ibadah istisqa tidak boleh berhenti pada dimensi ritual bayani (teks Al-Qur'an dan Sunnah) semata, melainkan harus dikombinasikan dengan pendekatan burhani (sains terkini) guna merespons ancaman krisis air dan kekeringan secara rasional.
Wawan menguraikan bahwa Sunnah Nabi Muhammad SAW menunjukkan keragaman bentuk permohonan hujan, mulai dari doa spontan saat khutbah Jumat seperti riwayat “Allahumma agisna” (Ya Allah, turunkanlah hujan kepada kami) hingga pelaksanaan salat dua rakaat secara berjemaah.
Dalam ranah fikih, ia memaparkan adanya perbedaan pendapat lintas mazhab, di mana Mazhab Hanafi berpandangan istisqa tidak wajib disertai salat, sementara Mazhab Syafi'i, Maliki, dan Hanbali menganjurkan salat dua rakaat berkonsep mirip salat Idulfitri/Iduladha dengan takbir tambahan.
Dalam penafsiran hukum di lingkungan Persyarikatan, Wawan mendorong agar warga Muhammadiyah membiasakan diri melacak basis dalil metodologis ketimbang sekadar mematuhi produk hukum secara tekstual.
“Kalau saya berpendapat, kita pakai dalil, bukan kita pakai Munas. Karena judulnya implementasi manhaji,” ujar Wawan Gunawan Abdul Wahid di Yogyakarta, Rabu, 21 Oktober 2026.
Lebih jauh, Wawan mengaitkan ikhtiar spiritual ini dengan kisah kewaspadaan Nabi Yusuf AS dalam menghadapi siklus tujuh tahun masa paceklik. Menurutnya, pendekatan sains masa kini—seperti teknologi modifikasi cuaca dan pemetaan klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)—merupakan bentuk perwujudan ikhtiar burhani yang saling melengkapi dengan ibadah salat istisqa.
“Di situ bukan lagi doa, mohon maaf, di situ bukan lagi salat, tapi cara secara saintifik yang bisa mengundang hujan turun seperti yang dilakukan oleh BMKG,” tegas Wawan.
Ia menyimpulkan bahwa doa dan salat istisqa berfungsi sebagai wujud penghambaan (ubudiyah) serta ketawakalan manusia kepada Allah SWT, sedangkan pengetahuan ilmiah meteorologi merupakan ikhtiar nyata manusia untuk mengelola lingkungan dan mengantisipasi dampak bencana kekeringan secara terukur.
