Mendikdasmen Ungkap Makna Halal Bihalal dan Mudik sebagai Penguat Relasi Sosial
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti menegaskan bahwa tradisi halal bihalal dan mudik merupakan kekayaan budaya khas Indonesia yang berperan penting dalam memperkuat relasi sosial dan nilai kemanusiaan.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam acara Halal Bihalal Nasional bertema “Semangat Syawal Meningkatkan Mutu Pendidikan” yang diikuti jajaran pimpinan dan pegawai Kemendikdasmen secara luring di Jakarta serta daring secara nasional, Selasa (30/3/2026).
Menurut Mu’ti, halal bihalal bukan bagian dari syariat formal agama, melainkan tradisi yang lahir dari pengamalan nilai-nilai ajaran Islam secara kontekstual dan kreatif sehingga dapat diterima oleh berbagai kalangan masyarakat.
Ia menjelaskan, selain halal bihalal, tradisi mudik juga menjadi fenomena khas Indonesia yang sarat makna sosial dan spiritual, bahkan tidak hanya dilakukan oleh umat Islam.
“Saya termasuk mudiker militan, selalu mudik dan sudah harus berada di kampung halaman sebelum azan magrib berkumandang,” tuturnya.
Mu’ti menambahkan, secara makna, mudik tidak sekadar kembali ke kampung halaman, tetapi juga menjadi simbol kembali pada fitrah manusia.
Dalam pemaparannya, ia menguraikan makna halal bihalal dan mudik melalui konsep 3R, 3O, dan 3S sebagai refleksi nilai kehidupan.
Pada konsep 3R, yakni refreshing, reunion, dan recreation, Mu’ti menjelaskan bahwa mudik menjadi sarana penyegaran spiritual dan sosial setelah menjalani Ramadan, sekaligus momentum mempererat hubungan melalui saling memaafkan.
“Reuni menjadikan kuat karena bersatu saling memaafkan, ‘klir semuanya mulai dari yang baru’,” tandasnya.
Selanjutnya, konsep 3O meliputi open mind, open heart, dan open house yang menggambarkan sikap keterbukaan dalam berpikir, kelapangan hati untuk memaafkan, serta tradisi saling berkunjung saat Lebaran.
Ia mengutip nasihat Ali bin Abi Thalib, “Unzhur maa qaalawalaa tanzhur man qaala,” yang berarti memperhatikan isi pesan, bukan siapa yang menyampaikannya.
“Saya kalau turun ke lapangan, banyak ide bagus saya peroleh dari mereka yang tidak pernah kita kenal sebelumnya,” ujar Mu’ti.
Pada bagian lain, ia menekankan pentingnya hati yang lapang dalam membangun relasi sosial. “Kalau hatinya sempit tidak salah pun disalahkan,” katanya, seraya mengutip ungkapan Arab bahwa manusia adalah tempatnya salah dan lupa.
Lebih lanjut, Mu’ti mengaitkan kedua konsep tersebut dengan hasil akhir berupa 3S, yakni sejahtera, sehat, dan smart. Ia mengutip buku karya Susan Pinker yang menegaskan pentingnya interaksi sosial langsung dalam meningkatkan kualitas hidup.
Menurutnya, silaturahmi yang intens melalui halal bihalal dan mudik mampu meningkatkan kebahagiaan, kesehatan, serta kecerdasan seseorang.
“Insyaallah dengan mengamalkan 3R kemudian 3O itu kita mencapai 3S. Inilah yang perlu kita bangun di Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah,” imbuhnya.
Ia pun menutup dengan ajakan untuk membangun budaya kerja yang ramah, santun, dan kolaboratif demi mencapai keberhasilan bersama.
“Mari kita bangun relasi di mana kita memperkuat budaya ramah dan tata kelola yang santun. Dengan itu kita bisa mencapai keberhasilan bersama-sama,” pungkas Abdul Mu’ti.