Menembus Laut Flores, Rombongan 'Aisyiyah Sikka Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Penyintas Gempa Pulau Palue
TVMU.TV - Rombongan Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Kabupaten Sikka menembus ombak Laut Flores selama enam jam demi mengantarkan bantuan kemanusiaan bagi warga terdampak gempa bumi di Kecamatan Palue, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Kecamatan yang terletak di Pulau Palue tersebut menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah lantaran lokasinya berdekatan dengan pusat Gempa Flores yang mengguncang NTT pada pertengahan Agustus 2026 lalu.
Ketua PDA Kabupaten Sikka, Fitriah, menjelaskan bahwa jarak tempuh sekitar 65 kilometer dari pusat Kabupaten Sikka melalui Pelabuhan Kewapante, Maumere, tidak mengurutkan niat para relawan untuk menjangkau 9.497 jiwa warga pulau yang tersebar di delapan desa.
“Di Kabupaten Sikka, untuk daerah yang paling terdampak ada di Pulau Palue,” ungkap Fitriah dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 17 September 2026.
Perjalanan menuju titik pengungsian mengharuskan tim relawan menghadapi tantangan geografis yang terjal di kaki Gunung Rokatenda. Kerusakan akses jalan darat pascagempa memaksa tim melanjutkan perjalanan menggunakan perahu kecil mengitari pulau selama 30 menit, dilanjutkan dengan berjalan kaki menanjak.
“Setelah sampai menggunakan perahu, relawan harus berjalan dengan medan yang menanjak menuju desa sekitar 30–45 menit. Kendaraan tidak bisa naik, jadi bantuan dibawa dengan dipikul,” kata Fitriah.
Dalam aksi tanggap darurat ini, 'Aisyiyah menyasar empat titik lokasi terisolasi, yakni Desa Kesokoja (Dusun Awa Male), Desa Natakuni (Dusun Cua), Desa Nitunglea (Dusun Nitung), dan Desa Tuanggeo (Dusun Okacere).
Bantuan yang disalurkan berfokus pada pemenuhan hak-hak dasar penyintas, khususnya kelompok rentan perempuan, bayi, dan balita. Logistik yang dipikul mencakup sembako, air siap minum, perlengkapan mandi, pembalut, hingga minyak kayu putih dan minyak telon.
Fitriah menambahkan, meskipun mayoritas penyintas di Pulau Palue non-Muslim, prinsip kemanusiaan universal Muhammadiyah–'Aisyiyah tetap melandasi aksi lintas batas tersebut, mengingat hampir 90 persen rumah warga di lokasi mengalami kerusakan berat.
“Meskipun bukan beragama Islam, mereka sangat berterima kasih kepada ‘Aisyiyah dan Universitas Muhammadiyah karena mereka langsung menerima apa yang mereka butuhkan,” pungkasnya.
Menghadapi musim penghujan yang kian dekat, PDA Sikka mendesak pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk segera memprioritaskan pembangunan hunian sementara bagi para korban yang kehilangan tempat tinggal.
