Milad ke-24 Lazismu, Buku Jurnalisme Filantropi Diluncurkan Dorong Peran Media Bangun Kesejahteraan
TVMU.TV - Majalah Suara Muhammadiyah bersama Lazismu meluncurkan buku Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan dalam resepsi Milad ke-24 Lazismu di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (29/7).
Buku tersebut menawarkan perspektif baru mengenai peran media yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga menggerakkan kepedulian sosial dan mendorong penyelesaian berbagai persoalan kemasyarakatan.
Peluncuran buku setebal 345 halaman itu diikuti diskusi yang menghadirkan penulis Roni Tabroni, Pemimpin Redaksi Republika Andi Muhyidin, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas Tirta Sutedjo, serta peneliti filantropi Islam Amelia Fauzia.
Dalam paparannya, Roni menjelaskan bahwa buku tersebut lahir dari dua kegelisahan. Pertama, dunia jurnalistik yang terus menghadapi disrupsi, dan kedua, kuatnya praktik filantropi masyarakat Indonesia yang belum terhubung secara optimal dengan praktik jurnalisme.
“Buku ini digagas untuk menjembatani dua kegelisahan itu. Tetapi diksi jurnalisme filantropi menjadi sebuah kajian keilmuan baru yang interdisiplin dan melahirkan cara pandang, pendekatan, dan konsep baru dalam bidang jurnalisme,” ujarnya.
Menurut Roni, jurnalisme filantropi tidak berhenti pada penyampaian informasi atau peliputan kegiatan sosial. Lebih jauh, jurnalisme harus mampu mengungkap akar persoalan sosial, membangun kepedulian publik, serta mendorong aksi kolektif sebagai bagian dari solusi.
“Oleh karena itu, ukuran keberhasilan jurnalisme filantropi bukan pada banyaknya berita, bukan pada seberapa viral, tetapi pada seberapa besar dampak yang dihadirkan bagi kehidupan sosial masyarakat,” pungkasnya.
Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyidin, menilai buku tersebut memberikan kontribusi penting bagi pengembangan praktik jurnalistik yang lebih berdampak.
Menurutnya, jurnalisme filantropi berfungsi sebagai jembatan antara masyarakat yang membutuhkan bantuan dengan mereka yang memiliki kepedulian untuk membantu.
“Karya Mas Roni ini akan sangat membantu. Buku ini berhasil merangkum, menceritakan tahap demi tahap dan juga bagaimana kemudian jurnalisme filantropi itu diterapkan,” paparnya.
Andi menambahkan, praktik jurnalisme filantropi berangkat dari proses pemberitaan, dilanjutkan dengan membangun empati, kemudian mendorong aksi nyata.
“Kondisi itu yang sedang dilakukan oleh media-media besar. Mereka sedang bergerak ke arah sana, tapi kita juga perlu berdiskusi lebih lanjut soal ini,” ungkapnya.
Sementara itu, Direktur Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas, Tirta Sutedjo, menilai konsep jurnalisme filantropi relevan untuk memperkuat kepercayaan publik sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.
“Kita memiliki agenda besar tahun 2045, tepatnya 100 tahun Indonesia Merdeka. Harapannya, kita sudah menjadi negara maju. Artinya tidak ada kemiskinan lagi dan seluruh masyarakat Indonesia sudah sejahtera,” ungkapnya.
Ia menilai media memiliki peran strategis dalam menghapus stigma terhadap kelompok rentan serta membangun kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia jurnalistik.
“Ini menjadi tugas kita bersama. Baik pemerintah, masyarakat, jurnalis, dan media perlu bergandeng tangan sehingga agenda bersama ke depan bisa berjalan dengan baik dan lancar,” tuturnya.
Dari perspektif akademik, peneliti filantropi Islam Amelia Fauzia menilai praktik filantropi telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia.
Ia mencontohkan lahirnya berbagai lembaga filantropi yang memiliki keterkaitan erat dengan media.
“Ada Republika yang melahirkan Dompet Dhuafa. Ada Muhammadiyah yang melahirkan koran ataupun Suara Muhammadiyah. Ini sebagian contoh saja. Mungkin di luar Indonesia lebih banyak lagi,” paparnya.
Meski demikian, Amelia mengingatkan pentingnya penyusunan kode etik dalam praktik jurnalisme filantropi agar fungsi advokasi tetap berjalan tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik.
“Bagaimana seorang jurnalis menjaga independensi jurnalistik. Paling tidak tetap saja jurnalisme filantropi harus ada kode etiknya. Bagaimana menyeimbangkan fungsi advokasi dengan prinsip-prinsip verifikasi, independensi, dan integritas,” tandasnya.
Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari, menambahkan bahwa peran media ke depan tidak cukup hanya mengungkap fakta, tetapi juga harus mampu membangun empati, menginspirasi, serta mengonsolidasikan potensi masyarakat.
“Kita berharap buku yang ditulis Kang Roni Tabroni ini, peran pers ke depan tidak sekadar mengungkap fakta, tetapi mulai membangun empati, memberi inspirasi, dan mengoordinasi potensi, termasuk di lingkungan Lazismu,” jelasnya.
Menurut Deni, sinergi antara jurnalisme dan gerakan filantropi berpotensi memperkuat penghimpunan serta pendayagunaan zakat, infak, dan sedekah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Kami berharap buku ini memberi pengaruh bahwa dunia pers tidak melulu soal berita, tapi ke depan, dunia pers bisa menginspirasi, membangun empati, dan mengonsolidasikan potensi-potensi besar secara ekonomi dan juga memberikan solusi untuk membangun negeri ini,” tandasnya.
Peluncuran buku Jurnalisme Filantropi, Media dan Visi Kesejahteraan menjadi salah satu rangkaian Milad ke-24 Lazismu sekaligus memperkenalkan gagasan tentang jurnalisme yang tidak hanya berorientasi pada penyampaian informasi, tetapi juga menghadirkan dampak sosial melalui kolaborasi antara media, lembaga filantropi, pemerintah, dan masyarakat.