Milad ke-45 UMKT, Haedar Nashir Ingatkan Kampus Jangan Terlena di Zona Nyaman

Milad ke-45 UMKT, Haedar Nashir Ingatkan Kampus Jangan Terlena di Zona Nyaman
Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Peringatan Milad dan Dies Natalis ke-45 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur (UMKT) menjadi momen krusial untuk evaluasi diri sekaligus mengukur capaian kualitas institusi. Seluruh civitas akademika diminta terus bergerak maju dan tidak terlena dengan status keunggulan yang telah diraih.

Pesan tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, dalam amanat ucapan Milad ke-45 UMKT. Menurutnya, perjalanan panjang selama 45 tahun merupakan bukti nyata transformasi UMKT menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terkemuka.

“Tentu milad dan atau Dies Natalis ini dijadikan momentum untuk muhasabah apa yang masih kurang dari usaha memajukan UMKT, tapi juga sekaligus menjadi wahana untuk tasyakur bin nikmah, bersyukur atas apa yang dianugerahkan Allah sehingga UMKT ini telah bertumbuh kembang menjadi universitas Muhammadiyah yang pesat kemajuannya,” ungkap Haedar pada Kamis, 10 September 2026.

Haedar mengapresiasi kerja keras seluruh jajaran pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, serta elemen Persyarikatan yang turut membesarkan kampus. Namun, ia mengingatkan agar kemajuan ini diimbangi dengan penguatan Caturdarma Perguruan Tinggi Muhammadiyah secara berkelanjutan.

“Bertambah usia tentu bertambah beban, bertambah tantangan, mudah-mudahan tidak bertambah masalah, tetapi lebih dari itu bertambah pengkhidmatan dan tanggung jawab yang lebih optimal dari seluruh pihak,” pesannya.

Guna menjawab dinamika pendidikan tinggi yang kian kompetitif, Haedar mendorong UMKT untuk melepaskan diri dari kepuasan semu.

“Jangan lengah dengan kemajuan yang diperoleh, jangan merasa cukup dan berada di zona nyaman dengan keunggulan yang telah diraih dan berbagai prestasi lain,” tegas Haedar.

Ia menepis stigma publik yang kerap menempatkan kampus negeri sebagai satu-satunya pilihan utama. Berkaca pada skala global, banyak perguruan tinggi swasta justru mampu menjadi yang terdepan berkat kemandirian dan efisiensi tata kelola.

“Kita berhadapan dengan opini dan pandangan publik di masyarakat Indonesia yang masih melihat universitas negeri sebagai segala-galanya, padahal di berbagai negara bahwa universitas swasta itu sebenarnya menjadi yang terdepan,” ujarnya.

Oleh karena itu, keberhasilan Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ’Aisyiyah (PTMA) dinilai sangat bergantung pada kekuatan dari dalam (inner dynamic) serta etos kerja pantang menyerah.

“Etos swasta adalah etos yang gigih, pantang menyerah menghadapi masalah dengan kemampuan mencari solusi, mengubah tantangan menjadi peluang,” katanya.

Menutup amanatnya, Haedar berharap tema Milad ke-45, “Meneguhkan Warisan dan Mewujudkan UMKT Berkemajuan”, mampu memicu semangat kolaborasi luas demi mencerdaskan dan memajukan bangsa.

“Saya yakin Pak Rektor dan seluruh jajaran akan menjadikan milad ini sebagai spirit baru untuk mengoptimalkan segala pengkhidmatan, usaha, tanggung jawab, kolaborasi sehingga UMKT selain membawa warisan nilai-nilai dan semangat awal, tetapi mewujudkan menjadi kampus berkemajuan secara berkualitas dan berdaya saing unggul,” pungkas Haedar.