Muhadjir Effendy: Pabrik Infus Jadi Langkah Strategis Muhammadiyah Masuk Industri Kesehatan

Muhadjir Effendy: Pabrik Infus Jadi Langkah Strategis Muhammadiyah Masuk Industri Kesehatan
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat menghadiri acara groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menargetkan pabrik infus yang dibangun melalui PT Suryavena Farma Indonesia mulai beroperasi dan memproduksi infus pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut menjadi langkah strategis Muhammadiyah untuk memperkuat kemandirian sektor kesehatan sekaligus mengokohkan pilar ekonomi Persyarikatan.

Komitmen itu disampaikan Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat menghadiri acara groundbreaking Pabrik PT Suryavena Farma Indonesia di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6/2026).

Muhadjir menjelaskan, Muhammadiyah memilih memproduksi infus karena produk tersebut merupakan kebutuhan dasar yang digunakan secara luas oleh rumah sakit dan fasilitas layanan kesehatan.

“Infus ini sangat generik, berbeda dengan obat. Karena obat ini sangat tergantung pada dokter, oleh karena itu kita belum berani masuk ke produksi obat,” ujar Muhadjir.

Menurutnya, hampir seluruh rumah sakit membutuhkan infus tanpa bergantung pada preferensi atau resep dokter tertentu. Kondisi tersebut menjadikan industri infus memiliki pasar yang stabil sekaligus risiko bisnis yang lebih terukur dibandingkan industri farmasi berbasis obat.

Karena itu, Muhammadiyah memandang investasi pada industri infus memiliki prospek yang menjanjikan, baik dari sisi kebutuhan pasar maupun keberlanjutan usaha.

“Karena itu saya berharap dukungan dari perbankan untuk mempercepat pembangunan pabrik infus ini,” katanya.

Muhadjir optimistis pembangunan pabrik dapat diselesaikan sesuai jadwal sehingga proses produksi dapat dimulai pada awal 2027. Kehadiran pabrik tersebut juga diharapkan mendukung kebutuhan alat kesehatan bagi jaringan rumah sakit Muhammadiyah yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Lebih jauh, Muhadjir menegaskan bahwa pembangunan pabrik infus bukan semata-mata langkah bisnis, melainkan bagian dari strategi Muhammadiyah memperkuat pilar ekonomi setelah memiliki fondasi kuat di bidang pendidikan dan kesehatan.

“Dengan penguatan pilar ekonomi, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai lembaga filantropi, tapi juga menjadi social corporate,” ungkapnya.

Ia menjelaskan konsep social corporate yang dikembangkan Muhammadiyah berbeda dengan perusahaan konvensional. Keuntungan yang diperoleh tidak dinikmati individu atau pengurus, melainkan dikembalikan untuk kepentingan umat dan masyarakat melalui berbagai program sosial, pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi.

“Semua keuntungan Muhammadiyah akan diputar kembali, dilimpahkan kembali, bukan menjadi milik pribadi pengurus Muhammadiyah, tapi dikembalikan kepada kepentingan masyarakat,” tegasnya.

Karena itu, Muhadjir mengingatkan jajaran direksi dan pengelola perusahaan agar menjadikan semangat pengabdian sebagai orientasi utama dalam menjalankan usaha. Menurutnya, prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 yang menempatkan ekonomi sebagai sarana mewujudkan kesejahteraan bersama.

Melalui PT Suryavena Farma Indonesia, Muhammadiyah berharap dapat menjadi pelopor pengembangan model social corporate di Indonesia, yakni perusahaan yang tidak hanya mengejar keuntungan, tetapi juga menghadirkan manfaat sosial yang luas bagi masyarakat.

Muhadjir menilai semakin banyak perusahaan yang mengusung prinsip ekonomi berbasis kemaslahatan, semakin besar pula peluang terciptanya pemerataan kesejahteraan dan penguatan ekonomi nasional yang berkeadilan.

“Muhammadiyah ingin menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi dapat dikelola berdasarkan asas kekeluargaan dan ditujukan sebesar-besarnya untuk kepentingan bersama,” pungkasnya.