Muhammadiyah Ajak Perkuat Ketahanan Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital

Muhammadiyah Ajak Perkuat Ketahanan Keluarga Hadapi Tantangan Era Digital
Sekretaris MPKS PP Muhammadiyah, Jasra Putra, dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertema

TVMU.TV - Keluarga menjadi fondasi utama dalam membangun peradaban bangsa sekaligus benteng pertama dalam menghadapi berbagai tantangan sosial di era digital. Karena itu, penguatan ketahanan keluarga dinilai menjadi kunci dalam melahirkan generasi yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Jasra Putra, dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertema "Pengasuhan dan Ketahanan Keluarga: Membangun Generasi Maju di Era Digital" di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (31/7/2026).

"Bicara keluarga tidak hanya tentang membesarkan anak, tetapi juga tempat membangun peradaban. Jika keluarga kuat, bangsa akan menjadi kuat. Sebaliknya, apabila keluarga rapuh, akan lahir berbagai krisis, mulai dari krisis sosial, pendidikan, ekonomi, hingga krisis moral," tegas Jasra.

Menurut Jasra, Muhammadiyah memberikan perhatian besar terhadap isu ketahanan keluarga karena keluarga merupakan lingkungan pertama dan paling penting dalam membentuk karakter, nilai, serta kepribadian anak.

Namun, di tengah perkembangan teknologi digital, keluarga Indonesia menghadapi berbagai tantangan yang semakin kompleks. Salah satunya adalah bergesernya fungsi keluarga akibat dominasi penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari.

"Keluarga kini mengalami perubahan fungsi. Rumah tidak lagi menjadi tempat bertumbuh bersama. Secara fisik memang hadir di rumah, tetapi masing-masing sibuk dengan gawainya," jelas Jasra.

Ia menilai kondisi tersebut memicu krisis interaksi dan komunikasi antarkeluarga. Tradisi makan bersama semakin jarang dilakukan, sementara komunikasi antaranggota keluarga menjadi semakin singkat dan dangkal.

Selain itu, Jasra menyoroti berkurangnya waktu pengasuhan yang berdampak pada meningkatnya berbagai ancaman terhadap anak. Minimnya perhatian, pendampingan, dan keteladanan dari orang tua membuat anak mencari ruang penerimaan di luar lingkungan keluarga.

"Akibatnya, anak-anak mencari apresiasi di luar rumah, termasuk mencurahkan isi hati di media sosial. Celah inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan yang tidak bertanggung jawab, termasuk pedofilia," papar Wakil Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tersebut.

Menurutnya, persoalan tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja, seperti kecemasan, depresi, kesepian, hingga tekanan akademik.

Jasra juga menyoroti fenomena fatherless yang masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 15,9 juta anak tumbuh tanpa kehadiran aktif sosok ayah dalam proses pengasuhan.

"Dampaknya sangat besar, mulai dari rendahnya kontrol diri, emosi yang tidak stabil, kemampuan sosial yang lemah, hingga meningkatnya kerentanan melakukan tindak pidana pada masa remaja," ungkapnya.

Muhammadiyah Siapkan Tiga Strategi Perkuat Ketahanan Keluarga

Menjawab berbagai tantangan tersebut, Jasra menjelaskan bahwa MPKS PP Muhammadiyah terus mengembangkan sejumlah program strategis untuk memperkuat ketahanan keluarga.

Langkah pertama dilakukan melalui optimalisasi fungsi keluarga, mulai dari penguatan fungsi ekonomi, kasih sayang, perlindungan, pendidikan, hingga kesehatan reproduksi melalui berbagai program edukasi dan pengasuhan (parenting).

"Ada situasi keluarga yang sangat beragam. Karena itu Muhammadiyah harus terus hadir. Ini merupakan bagian dari sebuah sistem yang perlu dikawal dari sisi regulasi, program, anggaran, layanan, dan berbagai aspek lainnya," jelasnya.

Strategi kedua adalah memperkuat peran komunitas di tingkat akar rumput agar mampu menjangkau anak-anak yang berada dalam kondisi rentan sekaligus memastikan mereka memperoleh perlindungan, pembinaan, dan pendampingan yang memadai.

Adapun langkah ketiga dilakukan melalui penguatan peran Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Muhammadiyah. Menurut Jasra, lembaga tersebut tidak hanya berfungsi sebagai tempat pengasuhan, tetapi juga harus menjadi pusat pembinaan karakter bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan keluarga inti.

"Muhammadiyah harus mampu menjadi jaring pengaman sosial terakhir bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan keluarga sehingga mereka tetap memperoleh hak untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik," tegasnya.

Jasra menegaskan, bagi Muhammadiyah, membangun keluarga merupakan bagian dari dakwah yang berorientasi pada pembangunan peradaban. Melalui penguatan ketahanan keluarga, Muhammadiyah berharap lahir generasi yang berkarakter, memiliki kepedulian sosial, adaptif terhadap perubahan zaman, serta mampu menjadi fondasi terwujudnya Indonesia Emas 2045.