Muhadjir Effendy: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar, tapi Membentuk Takwa

Muhadjir Effendy: Puasa Ramadan Bukan Sekadar Menahan Lapar, tapi Membentuk Takwa
Ketua PP Muhammadiyah, Muhadjir Effendy/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menyampaikan bahwa ibadah puasa Ramadan mengandung pelajaran penting bagi umat Islam untuk terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Hal tersebut disampaikan Muhadjir dalam kuliah tujuh menit (kultum) usai salat Zuhur berjamaah di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Yogyakarta, pada Kamis (19/2/2026), bertepatan dengan hari kedua Ramadan 1447 Hijriah.

Dalam tausiyahnya, Muhadjir mengawali dengan rasa syukur karena kembali dipertemukan dengan bulan suci Ramadan. Ia juga menyinggung kebijakan Muhammadiyah yang pada tahun ini menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) sebagai rujukan penentuan awal Ramadan.

“Alhamdulillah kita sudah memasuki puasa kedua. Kali ini kita mengacu kepada Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang sebelumnya menggunakan wujudul hilal. Ini merupakan ikhtiar kita untuk memperluas cakupan dan mendorong penyatuan umat secara global,” ujarnya.

Muhadjir menjelaskan, dalam tradisi fikih Muhammadiyah terdapat pembagian tingkatan umat Islam dalam memahami hukum dan pelaksanaan ibadah. Pertama adalah mujtahid, yakni mereka yang mampu merumuskan hukum secara mandiri berdasarkan penguasaan ilmu yang mendalam.

Tingkatan kedua adalah muttabi’, yaitu kelompok yang menjalankan ajaran Islam dengan pemahaman dalil yang melandasi praktik ibadah. Sedangkan tingkatan ketiga adalah muqallid, yaitu umat awam yang mengikuti praktik ibadah tanpa mengetahui dalil secara rinci.

Menurut Muhadjir, pemahaman mengenai tingkatan tersebut penting agar setiap Muslim termotivasi meningkatkan kapasitas ilmu dan pemahaman keagamaannya.

Selain itu, ia menegaskan bahwa Al-Qur’an telah menguraikan asal-usul sekaligus tujuan ibadah puasa dalam Surah Al-Baqarah ayat 183–190, yakni agar umat Islam mencapai derajat takwa. Ayat-ayat tersebut juga memuat ketentuan serta keringanan bagi mereka yang berhalangan menjalankan puasa, seperti karena sakit atau sedang dalam perjalanan.

Muhadjir menambahkan, kewajiban puasa Ramadan baru diturunkan setelah Nabi Muhammad SAW hijrah ke Madinah. Sebelum perintah puasa Ramadan diwajibkan, Rasulullah SAW telah membiasakan diri menjalankan puasa sunah selama tiga hari setiap bulan, yakni pada tanggal 13, 14, dan 15 yang dikenal sebagai ayyamul bidh.

Mengakhiri kultumnya, Muhadjir berharap umat Islam dapat menjalankan ibadah puasa Ramadan tahun ini dengan mudah dan memperoleh keberkahan dari Allah SWT.

“Mudah-mudahan kita diberi kemudahan dalam menjalankan puasa tahun ini dan insyaallah kita mendapatkan keberkahan dari kuasa Allah,” pungkasnya.