Muhammadiyah Diminta Perkuat Ekosistem Bisnis, Ini Tiga Strategi dari Adiwarman Karim

Muhammadiyah Diminta Perkuat Ekosistem Bisnis, Ini Tiga Strategi dari Adiwarman Karim
Ekonom syariah nasional, Adiwarman A. Karim dalam Pengajian PP Muhammadiyah bertema Resiliensi Keuangan untuk Dakwah Berkelanjutan di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam (26/6/2026). Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Ekonom syariah nasional Adiwarman A. Karim memaparkan tiga strategi utama untuk membangun ekosistem ekonomi yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan. Menurutnya, kekuatan ekonomi tidak cukup dibangun dengan mendirikan unit-unit usaha, tetapi harus ditopang oleh ekosistem yang mampu menjaga perputaran transaksi dan nilai ekonomi tetap berada dalam satu jaringan yang saling menguatkan.

Gagasan tersebut disampaikan Adiwarman saat menjadi narasumber dalam Pengajian Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Ia menjelaskan, strategi pertama adalah mengidentifikasi kebutuhan masyarakat berdasarkan siklus kehidupan (identify and acquisition). Menurutnya, pelaku usaha harus mampu menyediakan produk dan layanan yang dibutuhkan masyarakat sejak masa kanak-kanak, pendidikan, kesehatan, hingga usia lanjut.

Untuk mewujudkannya, organisasi perlu memperkuat posisi di pasar dengan menjadi pembeli besar (big buyer) atau distributor utama sehingga memiliki daya tawar yang tinggi terhadap produsen.

“Untuk hadir di setiap siklus tersebut, langkah yang tepat adalah menangkap pasar terlebih dahulu dan menjadi pembeli besar (big buyer) atau distributor utama. Dengan posisi itu, kita memiliki bargaining power yang kuat di hadapan produsen,” ujarnya.

Dengan posisi tersebut, kata Adiwarman, organisasi tidak hanya berperan sebagai konsumen atau perantara, tetapi juga mampu mengendalikan rantai pasok dan mengembangkan bisnis secara lebih strategis.

Strategi kedua adalah mengikuti arus perputaran uang (follow the money). Ia menilai banyak organisasi berhasil menghimpun dana dalam jumlah besar, tetapi gagal mempertahankan agar dana tersebut tetap beredar di dalam ekosistemnya sendiri.

“Jangan sampai kita hanya bekerja keras mengumpulkan dana sedikit demi sedikit, tetapi ketika jumlahnya sudah besar justru mengalir keluar ke lembaga atau perusahaan lain. Kalau kita tidak mengikuti ke mana uang itu bergerak, maka kita hanya mendapatkan bagian kecilnya saja,” katanya.

Karena itu, Adiwarman menekankan pentingnya memastikan organisasi hadir di setiap mata rantai transaksi sehingga manfaat ekonomi dapat terus berputar dan berkembang di dalam ekosistem yang sama.

Adapun strategi ketiga, yang disebutnya sebagai faktor paling menentukan, adalah membangun transaksi tertutup dalam ekosistem (close loop transaction). Melalui konsep ini, dana yang beredar akan terus dimanfaatkan oleh anggota maupun institusi dalam jaringan yang sama sehingga menciptakan efek berganda bagi pertumbuhan ekonomi.

Ia mencontohkan sejumlah lembaga keuangan yang mampu menjaga biaya dana (cost of fund) tetap rendah karena sebagian besar transaksi keuangan berlangsung di antara para nasabah dalam ekosistem mereka sendiri.

Menurut Adiwarman, Muhammadiyah memiliki modal yang sangat besar untuk menerapkan konsep tersebut. Persyarikatan memiliki jaringan amal usaha yang luas, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, sosial, hingga ekonomi.

“Muhammadiyah memiliki ekosistem dan kekuatan ekonomi yang besar di sektor pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan sosial. Karena itu, kita perlu membangun transaksi yang close loop, sehingga uang yang beredar tidak pergi ke mana-mana, melainkan kembali berputar di perusahaan-perusahaan dan amal usahanya sendiri,” tegasnya.

Ia meyakini, apabila seluruh elemen Persyarikatan mampu terhubung dalam satu ekosistem ekonomi yang terintegrasi, potensi besar Muhammadiyah akan menghasilkan dampak yang jauh lebih luas. Sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, koperasi, hingga berbagai unit usaha milik warga Muhammadiyah dapat menjadi mata rantai ekonomi yang saling memperkuat.

Melalui penguatan ekosistem bisnis yang terintegrasi, Adiwarman berharap Muhammadiyah semakin mandiri secara ekonomi, mampu meningkatkan kesejahteraan warga dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), serta menghadirkan model pembangunan ekonomi berbasis syariah yang berkeadilan dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.