Muhammadiyah Gelar Learning Event Respons Bencana Banjir Aceh dan Sumatra

Muhammadiyah Gelar Learning Event Respons Bencana Banjir Aceh dan Sumatra
Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief forum refleksi bertajuk Learning Event Respons Bencana Banjir di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara, Rabu (15/4/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Muhammadiyah menggelar forum refleksi bertajuk Learning Event Respons Bencana Banjir di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara pada Rabu (15/4/2026). Kegiatan ini menjadi ajang evaluasi sekaligus penguatan komitmen lintas pihak dalam meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian kompleks.

Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, menyampaikan bahwa bencana banjir di wilayah Sumatra sejatinya telah diprediksi sebelumnya, sehingga kesiapan sistem respons menjadi faktor krusial.

“Kecepatan, ketepatan, dan koordinasi menjadi faktor penting dalam respons bencana. Dukungan berbagai pihak, termasuk pemerintah dan mitra internasional, sangat membantu dalam penyelamatan, penyediaan layanan kesehatan, hingga pembangunan hunian darurat,” ujarnya.

Menurutnya, Muhammadiyah bergerak cepat dengan membentuk pos koordinasi dari tingkat nasional hingga daerah serta mengerahkan relawan lintas wilayah. Upaya pemulihan juga dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan layanan pendidikan melalui sekolah darurat serta layanan kesehatan menjangkau wilayah terdampak, termasuk daerah terpencil.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Mitigasi Bencana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Zainal Arifin, mengapresiasi kontribusi Muhammadiyah dalam penanganan bencana di berbagai daerah.

“Penanggulangan bencana adalah tanggung jawab bersama. Muhammadiyah telah menunjukkan komitmen kuat dan menjadi mitra strategis pemerintah dalam membangun ketangguhan masyarakat,” ungkapnya.

Ia menambahkan, bencana hidrometeorologi masih menjadi ancaman utama di Indonesia, sehingga diperlukan kolaborasi multipihak, termasuk penguatan sistem distribusi logistik dan dokumentasi praktik baik sebagai bagian dari pembelajaran berkelanjutan.

Sementara itu, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa forum ini memiliki nilai strategis dalam memperkuat kesiapsiagaan berbasis pengalaman nyata di lapangan.

“Ketika wilayah tetangga sudah mengalami bencana besar, maka kesiapsiagaan kita seharusnya segera ditingkatkan. Ini menjadi pelajaran penting bahwa peringatan dini harus direspons dengan tindakan nyata,” tegasnya.

Hilman mengingatkan bahwa ketersediaan data dan peringatan dini harus diikuti langkah preventif yang konkret. Tanpa respons yang memadai, risiko bencana dapat meningkat dan berujung pada kegagalan kolektif.

“Kita memiliki data, kita memiliki peringatan, tetapi jika tidak ada aksi preventif, maka risiko bencana akan semakin besar,” imbuhnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas kelembagaan serta dokumentasi pengetahuan sebagai bekal menghadapi bencana di masa depan. Transformasi Muhammadiyah dari Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) menjadi LRB juga menandai pendekatan yang lebih komprehensif, tidak hanya berfokus pada respons darurat, tetapi juga pembangunan ketangguhan masyarakat secara berkelanjutan.

“Ke depan, kita tidak hanya berbicara tentang respons dan rehabilitasi, tetapi juga bagaimana membangun model pengurangan risiko bencana yang kuat dan sistemik,” ujarnya.

Melalui forum ini, Muhammadiyah mendorong pendekatan terpadu dalam penanggulangan bencana, mulai dari mitigasi, kesiapsiagaan, hingga pemulihan berbasis pembelajaran, sebagai upaya menghadapi meningkatnya risiko bencana di Indonesia.