Pengajian Tarhib Ramadan, GreenFaith dan KEHATI Dorong Diversifikasi Pangan Lokal untuk Sahur dan Berbuka

Pengajian Tarhib Ramadan, GreenFaith dan KEHATI Dorong Diversifikasi Pangan Lokal untuk Sahur dan Berbuka
Tangkapan layar: Hening Parlan, Nasional Koordinator GreenFaith Indonesia, mengingatkan bahwa puasa sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam konsumsi makanan, pada acara Pengajian Tahrib Ramadan, Senin (16/2). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Kolaborasi GreenFaith Indonesia, Yayasan KEHATI, Food Culture Alliance Indonesia (Aliansi Budaya Pangan), dan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPP IMM) mengajak masyarakat menjadikan Ramadan sebagai momentum mengembalikan pangan lokal ke meja makan, baik saat sahur maupun berbuka puasa.

Ajakan tersebut mengemuka dalam Pengajian Tarhib Ramadan bertema “Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal” yang digelar secara kolaboratif dan diikuti 42 peserta, Senin (16/2/2026).

Kegiatan ini menegaskan bahwa Ramadan tidak hanya menjadi ruang spiritual, tetapi juga momentum memperbaiki pola konsumsi agar lebih sehat, adil, serta berpihak pada keberlanjutan lingkungan.

Koordinator Nasional GreenFaith Indonesia, Hening Parlan, menekankan bahwa puasa sejatinya mengajarkan pengendalian diri, termasuk dalam perilaku konsumsi makanan.

“Ramadan seringkali justru diwarnai perilaku berlebihan saat berbuka. Padahal, puasa mengajak kita kembali pada fitrah—hidup sederhana, seimbang, dan tidak berlebihan. Dalam konteks pangan, ini berarti memilih yang halal sekaligus thayyib, termasuk pangan lokal,” ujarnya.

Hening menambahkan, dalam perspektif teologis manusia sebagai khalifah memiliki tanggung jawab menjaga bumi, termasuk melalui cara memproduksi dan mengonsumsi pangan. Prinsip mizan atau keseimbangan, menurutnya, menuntut hubungan harmonis antara manusia dan alam yang salah satunya dapat diwujudkan melalui konsumsi pangan lokal.

Sementara itu, Manager Program Ekosistem Pertanian Yayasan KEHATI, Puji Sumedi, menyampaikan bahwa pangan tidak semata-mata dipahami sebagai komoditas, tetapi merupakan sebuah ekosistem dari hulu hingga hilir.

“Pangan adalah hak asasi manusia. Ketika kita memilih pangan lokal, kita tidak hanya mengurangi emisi dari distribusi jarak jauh, tetapi juga berpihak pada produsen lokal serta menjaga keberlanjutan budaya pangan,” jelasnya.

Puji juga menyoroti ketergantungan masyarakat terhadap bahan pangan impor seperti terigu yang tidak tumbuh di Indonesia. Menurutnya, ketergantungan ini tidak hanya berdampak pada peningkatan emisi karbon, tetapi juga menambah beban ekonomi nasional.

“Makanlah apa yang kita tanam, dan tanamlah apa yang kita makan,” ajaknya.

Dari sisi kesehatan, Sutamara Noor dari Food Culture Alliance Indonesia menjelaskan bahwa puasa memiliki manfaat kesehatan, termasuk membantu perbaikan metabolisme dan menjaga keseimbangan kolesterol. Namun, manfaat tersebut sering kali tidak maksimal akibat pola konsumsi berbuka yang kurang sehat.

Ia mendorong masyarakat memilih takjil berbasis buah lokal, menghindari konsumsi gula sederhana dan pemanis sintetis, serta memperbanyak karbohidrat kompleks dan makanan seimbang yang bersumber dari pangan lokal.

“Pilihan pangan saat berbuka sangat menentukan kualitas kesehatan kita selama Ramadan,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, Circle Manager GreenFaith Indonesia, Syahrul Ramadhan, memperkenalkan inisiatif Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal. Gerakan tersebut akan dimulai melalui kampanye di lima masjid percontohan di Makassar, Lamongan, Ternate, Denpasar, dan Medan.

Kampanye dilakukan melalui kultum Ramadan berbasis dalil keagamaan tentang pangan, serta penyediaan takjil berbasis pangan lokal yang minim sampah. Praktik baik dari kegiatan tersebut akan didokumentasikan sebagai materi kampanye publik untuk mendorong replikasi di berbagai komunitas, termasuk jaringan IMM.

“Ramadan adalah momentum untuk mengembalikan pangan lokal ke meja makan umat. Gerakan ini dimulai dari langkah kecil—dari dapur kita sendiri,” kata Syahrul.

Syahrul juga membagikan Modul Gerakan Ramadan dan Diversifikasi Pangan Lokal kepada peserta yang memuat panduan dan resep olahan berbasis bahan pangan lokal untuk konsumsi sahur dan berbuka.

Modul tersebut disusun bersama sejumlah organisasi pemerhati pangan lokal, di antaranya Masak TV, Food Culture Alliance, Nusantara Food Biodiversity, Yayasan KEHATI, GreenFaith Indonesia, YAMMI, Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan, DPP IMM, dan DIPLOVA Institute.

Sebagai penutup, moderator kegiatan dari DPP IMM, Najihus Salam, menegaskan bahwa diversifikasi pangan lokal bukan hanya soal pilihan konsumsi, tetapi juga bagian dari nilai ibadah, keadilan sosial, serta tanggung jawab ekologis.