PGSD UMP Gelar Pentas Macapat, Mahasiswa Asing BIPA Ikut Lestarikan Budaya Jawa

PGSD UMP Gelar Pentas Macapat, Mahasiswa Asing BIPA Ikut Lestarikan Budaya Jawa
PGDD UMP menggelar Penampilan Macapat Mahasiswa PGSD UMP dan Mahasiswa BIPA di Ruang Sidang Baru FKIP UMP, Rabu (1/7/2026). Foto: UMP.

TVMU.TV - Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP) menggelar Penampilan Macapat Mahasiswa PGSD UMP dan Mahasiswa Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Ruang Sidang Baru Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UMP, Rabu (1/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari evaluasi mata kuliah sekaligus upaya melestarikan budaya Jawa dan memperkenalkannya kepada mahasiswa internasional.

Melalui pertunjukan tersebut, mahasiswa PGSD bersama mahasiswa BIPA membawakan berbagai tembang macapat yang sarat nilai moral, filosofi kehidupan, dan kearifan lokal. Selain menjadi bagian dari penilaian akademik, kegiatan ini juga menjadi media pembelajaran budaya bagi mahasiswa asing yang mengikuti program BIPA di UMP.

Dosen Pengampu Mata Kuliah Macapat PGSD UMP, Dr. Pratik Hari Yuwono, S.Sn., M.A., mengatakan pembelajaran macapat tidak hanya berfokus pada kemampuan melagukan tembang, tetapi juga memahami makna dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.

“Untuk mendekatkan kita dengan budaya kita, selain melalui tembang macapat yang menjadi bagian dari kurikulum PGSD dan kuliah BIPA, kami mencoba menggali pentingnya macapat. Macapat merupakan sastra yang dilagukan sehingga di dalamnya terdapat moral, pesan, dan nilai-nilai budaya Jawa,” ujarnya.

Menurut Pratik, kegiatan ini diharapkan dapat memperluas pemahaman mahasiswa terhadap kekayaan budaya Indonesia, khususnya budaya Jawa.

“Harapan kami mahasiswa dapat mengenal budaya Indonesia, salah satunya budaya Jawa, tidak hanya bisa melakukannya saja, tetapi juga mampu memaknai isi yang terkandung di dalamnya,” katanya.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Dekan III FKIP UMP, Dedy Irawan, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengingatkan bahwa seni bukan sekadar bagian dari penilaian akademik, melainkan ruang untuk menikmati, menghayati, dan mengapresiasi karya budaya.

“Dalam seni itu yang utama adalah apresiasi. Seni dan sastra itu dinikmati. Ketika yang dicari hanya nilai dalam bentuk angka, menurut saya itu kurang tepat. Yang lebih penting adalah bagaimana yang membawakan maupun yang mendengarkan bisa menikmati dan mengapresiasi,” tuturnya.

Ia juga mengajak mahasiswa untuk berperan aktif dalam menjaga warisan budaya bangsa.

“Ketika tampil nanti semoga lebih nyaman dan tidak ada beban. Menjaga serta melestarikan budaya itu merupakan tugas kita bersama, apalagi bagi mahasiswa yang berasal dari Jawa,” ucapnya.

Melalui penampilan macapat ini, UMP tidak hanya mengintegrasikan pembelajaran berbasis budaya ke dalam proses akademik, tetapi juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai ruang pelestarian budaya lokal. Keterlibatan mahasiswa BIPA dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan warisan budaya Indonesia kepada masyarakat internasional melalui pendidikan.