Seminar Natal Nasional Tegaskan Keluarga sebagai Fondasi Ketahanan Sosial di Kota Metropolitan

Seminar Natal Nasional Tegaskan Keluarga sebagai Fondasi Ketahanan Sosial di Kota Metropolitan
Foto bersama seluruh peserta dan pembicara acara Seminar Natal Nasional, bertajuk 'Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan', di STFT Jakarta, Sabtu (3/1/2026). Foto: Humas STFT Jakarta.

TVMU.TV - Keluarga kembali ditegaskan sebagai fondasi utama ketahanan sosial, spiritual, dan kemanusiaan di tengah tekanan kehidupan kota metropolitan yang kian kompleks.

Pesan tersebut mengemuka dalam Seminar Natal Nasional bertajuk “Keluarga Bertahan di Tengah Tantangan Kota Metropolitan” yang digelar di Aula Lantai 1 Sekolah Tinggi Filsafat Theologi (STFT) Jakarta, Sabtu (3/1/2026).

Seminar ini menjadi bagian dari rangkaian Natal Nasional 2025 yang mengusung tema besar “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga”, terinspirasi dari Matius 1:21–24. Forum tersebut mengajak masyarakat merefleksikan kembali peran keluarga sebagai ruang pertama pembentukan iman, nilai, dan ketahanan sosial bangsa, khususnya di tengah tekanan ekonomi, arus digital, dan perubahan relasi sosial di kota besar.

Menteri Agama RI Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A. menegaskan bahwa keluarga merupakan inti dari bangunan peradaban. Menurutnya, negara yang kuat tidak mungkin terwujud jika fondasi keluarga rapuh.

“Norma tentang keluarga jauh lebih banyak dibahas dalam Alkitab dan Alquran dibandingkan soal negara. Ini menandakan betapa sentralnya keluarga dalam kehidupan berbangsa,” ujar Nasaruddin.

Ia menyoroti perceraian sebagai persoalan serius yang berdampak luas, terutama bagi anak-anak.

“Yang paling merasakan luka perceraian adalah anak. Ikatan emosional dalam keluarga harus diperkuat. Jika keluarga rusak, masyarakat ikut rusak, dan negara menjadi lemah,” katanya.

Nasaruddin juga mengingatkan agar agama dipahami sebagai sumber persaudaraan, bukan pemicu perpecahan.

“Semakin dalam kita memahami kitab suci, semakin dekat kita satu sama lain,” ujarnya.

Dari sudut pandang pendidikan dan sains, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Stella Christie, Ph.D. menyoroti tantangan keluarga metropolitan yang kerap luput disadari, yakni melemahnya komunikasi akibat kecanduan digital.

Ia menyebut penggunaan gawai dan media sosial yang berlebihan sering kali menggerus kualitas relasi dalam keluarga.

“Inti keluarga adalah nilai dan kenangan. Itu tidak lahir dari layar gawai, melainkan dari percakapan,” kata Stella.

Ia mengajak keluarga kembali pada praktik sederhana namun bermakna.

“Refleksi saya sederhana: ayolah makan bersama dan berbicara. Di sanalah nilai dan kemanusiaan diwariskan,” ucapnya.

Sementara itu, Pendiri dan Pemimpin Yayasan Pelita Harapan, Dr. (HC) James Riady, melihat paradoks kehidupan modern yang ditandai kemajuan lahiriah, tetapi kerap rapuh secara rohani.

“Manusia maju secara lahiriah, tetapi rapuh secara rohani,” ujarnya.

Menurut Riady, keluarga adalah lembaga pertama tempat anak belajar kasih, disiplin, iman, kerja keras, dan pengampunan.

“Jika keluarga melemah, negara pun ikut melemah,” katanya.

Dimensi keluarga juga dibahas dari perspektif lintas iman dan ekologis. Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah sekaligus Koordinator Green Faith Indonesia, Hening Parlan, M.Si., menegaskan bahwa keluarga tidak dapat dipisahkan dari relasinya dengan lingkungan hidup.

“Bangun tidur kita menghirup oksigen, minum air, dan hidup dari sumber daya alam. Lingkungan hidup melekat dalam diri manusia,” ujarnya.

Ia menolak pandangan yang memisahkan manusia dari alam dan menekankan bahwa relasi ekologis merupakan bagian dari nilai keagamaan.

“Doa pernikahan dalam Islam berbicara tentang mawaddah wa rahmah. Itu bukan hanya relasi antarmanusia, tetapi juga dengan seluruh ciptaan,” katanya.

Menurut Hening, rusaknya relasi manusia dengan alam akan berdampak pada rusaknya relasi sosial dan spiritual. Keluarga, kata dia, sering kali menjadi pihak pertama yang merasakan akibatnya, baik melalui bencana, krisis air, maupun trauma sosial.

“Agama-agama hadir bukan pada situasi yang baik-baik saja, tetapi justru ketika ada kerusakan dan luka yang membutuhkan pemulihan,” sebutnya.

Ia menegaskan peran agama dalam penyembuhan pascabencana dan krisis sosial.

“Tuhan menggerakkan kita ketika kita bergerak. Jalan pulang itu adalah kembali ke agama masing-masing, memperdalam relasi dengan Tuhan, agar trauma sosial tidak diwariskan dan keluarga tetap menjadi ruang penyembuhan,” katanya.

Pada sesi talkshow, Hening Parlan hadir bersama Ketua Umum PGI Pdt. Dr. (HC) Jacklevyn Frits Manuputty, M.Th., Ketua Pelaksana Harian Panitia Natal Nasional Pdt. Dr. Jason Joram Balompapuaeng, serta perwakilan Komisi Keluarga KWI Anna Surti Ariani, S.Psi., M.Si.

Ketua Umum Panitia Natal Nasional 2025 Maruarar Sirait menegaskan bahwa seminar ini menjadi momentum untuk mengajak masyarakat kembali pada nilai kasih.

“Dalam setiap persoalan keluarga, Allah hadir untuk menyelamatkan,” ujarnya.

Sementara itu, Rektor STFT Jakarta Prof. Binsar Jonathan Pakpahan selaku Koordinator Seminar Natal Nasional berharap rangkaian seminar ini menghasilkan rekomendasi nyata bagi gereja, pemerintah, dan masyarakat dalam memperkuat keluarga Indonesia di tengah tekanan kehidupan metropolitan.

Rangkaian Seminar Natal Nasional 2025 dijadwalkan ditutup pada 29 Januari 2026 di Universitas Pelita Harapan, Jakarta. Dari forum ini mengemuka satu pesan utama: merawat keluarga berarti merawat kehidupan—manusia, iman, dan bumi tempat berpijak bersama.