Uhamka-Kementerian Kebudayaan Bahas Warisan Pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana
TVMU.TV - Program Studi (Prodi) Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. HAMKA (Uhamka) bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar Seminar Nasional Sutan Takdir Alisjahbana, Bahasa Indonesia & Cita-Cita Kebangsaan: Meneguhkan Warisan Pemikiran bagi Indonesia Masa Depan, di Auditorium Ahmad Dahlan, Gedung A FKIP Uhamka, Jakarta Timur, Senin (29/6/2026).
Seminar yang diikuti mahasiswa, dosen, guru, peneliti, akademisi, dan masyarakat umum tersebut bertujuan menghidupkan kembali gagasan Sutan Takdir Alisjahbana (STA) mengenai peran bahasa Indonesia sebagai perekat persatuan, identitas nasional, sekaligus fondasi pembangunan peradaban bangsa di tengah tantangan global.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon hadir sebagai keynote speaker dengan membawakan materi bertajuk Bahasa, Budaya, dan Sejarah sebagai Fondasi Peradaban Bangsa. Dalam paparannya, ia menegaskan bahwa bahasa Indonesia memiliki fungsi yang jauh melampaui alat komunikasi.
Menurut Fadli, bahasa Indonesia merupakan media pewarisan nilai budaya, sejarah, serta identitas nasional yang harus terus dijaga dan dikembangkan agar tetap relevan di era globalisasi.
Seminar dibuka oleh Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Kementerian Kebudayaan, Dr. Restu Gunawan, M.Hum. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan intelektual para tokoh bangsa, termasuk pemikiran Sutan Takdir Alisjahbana, sebagai inspirasi dalam membangun generasi Indonesia yang adaptif terhadap perubahan tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.
Forum ilmiah tersebut menghadirkan tiga narasumber dari berbagai disiplin ilmu. Dr. Yuda Benharry Tangkilisan, S.S., M.Hum. dari Universitas Indonesia mengulas kontribusi pemikiran STA dalam sejarah intelektual Indonesia.
Selanjutnya, Dr. Desvian Bandarsyah, M.Pd., dosen Pendidikan Sejarah FKIP Uhamka, memaparkan relevansi pemikiran STA bagi pengembangan pendidikan sejarah dan kebudayaan di era modern.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Guru Sejarah Indonesia (AGSI), Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma, M.Pd., menjelaskan implementasi nilai-nilai pemikiran STA dalam pembelajaran sejarah untuk memperkuat literasi kebangsaan peserta didik.
Diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Berbagai isu mengemuka, mulai dari tantangan penguatan bahasa Indonesia di era digital, pelestarian budaya nasional, hingga strategi pendidikan dalam membangun generasi muda yang memiliki karakter kebangsaan dan kemampuan berpikir kritis.
Selain mengikuti sesi akademik, peserta memperoleh e-sertifikat, materi seminar, goodie bag, dan konsumsi sebagai bagian dari rangkaian kegiatan.
Seminar ini juga mengangkat kutipan terkenal Sutan Takdir Alisjahbana, “Bahasa adalah jiwa bangsa, sastra adalah cermin budinya, dan kebudayaan adalah jalan menuju kemajuan.” Kutipan tersebut menjadi penegasan bahwa gagasan STA tetap relevan sebagai pijakan dalam memperkuat bahasa Indonesia, melestarikan kebudayaan nasional, serta membangun peradaban Indonesia yang maju dan berdaya saing.
Melalui penyelenggaraan seminar nasional ini, Uhamka bersama Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmen memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, sejarah, dan kebudayaan. Forum tersebut diharapkan melahirkan gagasan strategis untuk memperkuat posisi bahasa Indonesia sebagai identitas nasional sekaligus memperkokoh semangat kebangsaan dalam menghadapi dinamika global.