Abdul Mu’ti: Amal Usaha Muhammadiyah Wujud Nyata Tauhid dan Amal Saleh

Abdul Mu’ti: Amal Usaha Muhammadiyah Wujud Nyata Tauhid dan Amal Saleh
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah di UMY. Ahad (22/2/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa amal usaha merupakan bentuk konkret aktualisasi amal saleh yang berakar pada tauhid. Karena itu, perbuatan baik yang tidak dilandasi iman tidak memiliki makna transendensi dan tidak bernilai di hadapan Allah.

Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar pada Ahad (22/2/2026).

Menurut Mu’ti, amal saleh tidak terbatas pada ibadah mahdhah semata, seperti salat atau puasa. Segala bentuk kebaikan yang membawa kemaslahatan bagi manusia termasuk bagian dari amal saleh.

“Amal saleh itu adalah amal-amal kebaikan yang bentuknya tidak selalu berupa ibadah-ibadah mahdhah. Semua hal yang mendatangkan kebaikan bagi manusia itulah amal yang saleh. Bentuknya bisa berbagai macam dan karena itu ekspresi dari amal saleh juga sangat beragam,” ujarnya.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia itu menjelaskan, amal usaha Muhammadiyah merupakan konkretisasi dari nilai-nilai amal saleh. Wahyu, kata dia, tidak berhenti sebagai teks normatif, melainkan harus ditransformasikan menjadi gerakan sosial sebagai wujud aktualisasi iman.

Dalam konteks mencerdaskan kehidupan bangsa, Muhammadiyah mendirikan sekolah dan perguruan tinggi. Sementara dalam bidang kesehatan, Persyarikatan membangun rumah sakit dan berbagai layanan kesehatan sebagai bentuk pelayanan nyata kepada masyarakat.

“Inilah yang dilakukan oleh Muhammadiyah melalui amal usahanya,” kata Mu’ti.

Ia menambahkan, amal usaha juga merupakan bentuk objektifikasi, yakni pengakuan nyata dari masyarakat terhadap eksistensi dan manfaat lembaga yang dibangun. Kepercayaan publik, menurutnya, tumbuh karena masyarakat merasakan langsung kualitas layanan yang diberikan.

“Objektifikasi itu adalah keniscayaan keadaan di mana ketika mereka bergabung dengan kita, mereka merasa aman karena dihormati eksistensinya dan dilindungi keberadaannya,” jelasnya.

Mu’ti mencontohkan, Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan dan kesehatan tidak hanya melayani warga Muhammadiyah atau umat Islam, melainkan masyarakat luas tanpa memandang latar belakang agama.

“Yang belajar di Muhammadiyah tidak hanya orang Islam dan tidak hanya warga Muhammadiyah. Begitu juga yang berobat di rumah sakit Muhammadiyah, tidak hanya umat Islam dan tidak hanya warga Muhammadiyah,” terangnya.

Pada titik inilah tauhid menjadi landasan ideologis pengembangan amal usaha. Menurut Mu’ti, kekuatan Muhammadiyah terletak pada modal sosial-moral berupa transparansi, akuntabilitas, serta komitmen menjaga kualitas pelayanan.

“Di situlah ciri dan kekuatan Muhammadiyah,” pungkasnya.