Abdul Mu’ti Jabarkan Tiga Pilar Muhammadiyah: Gerakan Islam, Dakwah, dan Pembaruan

Abdul Mu’ti Jabarkan Tiga Pilar Muhammadiyah: Gerakan Islam, Dakwah, dan Pembaruan
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti/ Foto: Tangkap layar YouTube tvMu Channel.

TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan kembali tiga ciri utama gerakan Muhammadiyah sebagaimana termaktub dalam Anggaran Dasar Pasal 4. Penegasan ini disampaikan saat meresmikan Amal Usaha Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Tuban pada Ahad (11/1).

Tiga ciri tersebut adalah: (1) sebagai Gerakan Islam, (2) sebagai Gerakan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, dan (3) sebagai Gerakan Tajdid (Pembaruan).

Pertama, Mu’ti menjelaskan bahwa seluruh aktivitas Muhammadiyah berasaskan ajaran Islam. “Itulah makna ringkas dari Muhammadiyah, sebagai gerakan Islam. Sehingga karena itu, ketika Muhammadiyah melaksanakan berbagai macam kegiatan, asasnya adalah Al-Qur’an dan As-Sunah,” ujar Mu’ti.

Kedua, Muhammadiyah merupakan gerakan dakwah amar ma'ruf nahi munkar, yang oleh Mu’ti ditekankan sebagai gerakan ilmu. “Ma’ruf itu akar katanya Arafah. Arafah itu artinya mengetahui sesuatu dengan benar,” ungkapnya.

Gerakan ini telah mewujud sejak awal berdirinya Muhammadiyah pada 1912 melalui pendirian sekolah dan klinik (Klinik PKO), yang kini telah berkembang menjadi ratusan amal usaha di bidang pendidikan dan kesehatan di seluruh Indonesia.

Ketiga, Mu’ti menyoroti ciri Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid. Pembaruan ini meliputi tiga hal: pemikiran, cara beragama, dan cara bergerak.

Ia mencontohkan, fikih kebencanaan yang lahir dari pemikiran cendekiawan Muhammadiyah telah mendapat apresiasi internasional.

“Fikih bencana itu kita terjemahkan ke bahasa Inggris, kita sampaikan kepada kedutaan Australia. 'This is very progressive vision of disaster' kata dia begini. Ini pandangan yang sangat maju tentang bencana,” ujar Mu’ti.

Pembaruan dalam gerakan, lanjutnya, diwujudkan dengan lahirnya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), yang meski tergolong muda, sudah memiliki sertifikasi resmi dari WHO.

Mu’ti menutup dengan pesan bahwa semua capaian ini bukanlah akhir, melainkan awal bagi Muhammadiyah untuk terus berdakwah secara terbuka, luas, dan luwes, agar kemanfaatan gerakannya dapat dirasakan oleh semakin banyak masyarakat.