Abdul Mu’ti Jelaskan Keutamaan Lailatul Qadar
TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, mengajak umat Islam memaksimalkan ibadah pada malam-malam terakhir Ramadan untuk meraih keutamaan Lailatul Qadar. Pesan tersebut disampaikan dalam ceramah malam ke-28 Ramadan 1447 Hijriah di Masjid At-Tanwir, Gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah, Senin (16/3).
Dalam ceramahnya, Abdul Mu’ti mengilustrasikan Lailatul Qadar sebagai momentum istimewa layaknya fenomena “midnight sale” dalam dunia pemasaran, yang menawarkan keuntungan besar bagi mereka yang memanfaatkannya.
“Dalam teori marketing, diskon dan bonus hanya bermakna bagi mereka yang membeli produknya. Begitu juga dengan Lailatul Qadar; semurah atau semulia apa pun bonus pahala yang ditawarkan, ia hanya akan didapatkan oleh mereka yang benar-benar ‘berbelanja’ dengan melakukan ibadah dan iktikaf,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Allah SWT memberikan peluang pahala berlipat di penghujung Ramadan sebagai motivasi agar umat Islam tidak menyia-nyiakan waktu yang tersisa. Karena itu, ia mendorong jamaah untuk menghidupkan malam-malam terakhir dengan ibadah secara optimal.
Dalam penjelasannya, Abdul Mu’ti juga mengutip pandangan M. Quraish Shihab terkait makna Lailatul Qadar. Ia menyebutkan bahwa “qadar” memiliki tiga arti utama, yakni mulia, ukuran, dan sempit.
Makna mulia menunjukkan tingginya derajat malam tersebut. Sementara makna ukuran merujuk pada turunnya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia. Adapun makna sempit menggambarkan keterbatasan waktu malam hingga fajar serta banyaknya malaikat yang turun ke bumi.
“Sempit karena waktunya terbatas dan karena banyaknya malaikat yang turun sehingga seolah-olah berdesak-desakan,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kemuliaan hidup manusia sangat ditentukan oleh sejauh mana ajaran Al-Qur’an diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Jika kita mengamalkan syariat Allah dengan sungguh-sungguh, maka kita akan mendapatkan kemuliaan dalam kehidupan,” tegasnya.
Menutup ceramah, Abdul Mu’ti mengingatkan pentingnya menjaga persatuan umat Islam menjelang Idulfitri. Ia menilai perbedaan pandangan merupakan hal yang wajar dan perlu disikapi secara bijaksana sebagai bagian dari rahmat.
Ceramah yang berlangsung sekitar 26 menit itu diikuti khidmat oleh jamaah. Suasana semakin hangat dengan selingan humor khas Abdul Mu’ti yang mengundang tawa sekaligus memperdalam pemahaman jamaah.