Muhammadiyah Rumuskan Penguatan Ekosistem Seni Budaya untuk Dakwah Berkemajuan

Muhammadiyah Rumuskan Penguatan Ekosistem Seni Budaya untuk Dakwah Berkemajuan
LSB PP Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bertema “Membumikan Dakwah Berkemajuan; Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (10/7/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Lembaga Seni Budaya (LSB) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bertema “Membumikan Dakwah Berkemajuan; Mengembangkan Ekosistem Seni dan Budaya yang Kreatif dan Inklusif” di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat (10/7/2026).

Forum nasional yang berlangsung hingga Ahad (12/7/2026) itu menjadi ajang konsolidasi LSB Muhammadiyah dari seluruh Indonesia untuk merumuskan arah kebijakan dan program strategis pengembangan seni budaya sebagai bagian dari dakwah berkemajuan.

Membuka Rakernas, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa seni dan budaya merupakan unsur penting dalam gerakan Muhammadiyah karena memiliki sifat inklusif, cair, dan terbuka.

Menurut Haedar, Muhammadiyah sejak lama memandang seni budaya sebagai bagian dari dakwah yang berorientasi pada kemanusiaan. Pandangan tersebut juga sejalan dengan pemikiran Majelis Tarjih dan Tajdid yang menempatkan seni budaya sebagai sesuatu yang dibolehkan dalam Islam.

“Muhammadiyah telah lama memiliki langkah di bidang seni budaya. Majelis Tarjih sejak awal memandang seni dan budaya itu sebagai sesuatu yang bersifat boleh bahkan menjadi keniscayaan di bidang dakwah untuk kemanusiaan,” ujar Haedar.

Ia menambahkan, seni budaya tidak hanya menjadi ruang ekspresi, tetapi juga instrumen dakwah kultural yang mampu menghadirkan nilai-nilai Islam secara humanis dan membumi.

“Maka betapa pentingnya seni budaya bagi Muhammadiyah untuk mengembangkan dakwah kultural dan pencerahan kemanusiaan juga untuk kepentingan transendensi mendekatkan manusia kepada Tuhan, alam, dan sesama manusia. Dan saya yakin di situlah kepentingan kita mengembangkan seni dan budaya di Muhammadiyah,” jelasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon mengapresiasi penyelenggaraan Rakernas LSB PP Muhammadiyah. Ia menilai Muhammadiyah memiliki peran penting dalam memperkuat ekosistem kebudayaan nasional.

Fadli juga mendukung gagasan pembukaan fakultas atau program studi seni dan budaya di lingkungan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-’Aisyiyah (PTMA).

“Mudah-mudahan dari Rakernas ini akan lahir nanti perguruan tinggi mana yang memulai untuk membuka fakultas seni dan budaya,” ujarnya.

Rakernas diikuti pengurus LSB Pimpinan Wilayah Muhammadiyah dari berbagai provinsi. Turut hadir Ketua PP Muhammadiyah Irwan Akib, Ketua LSB PP Muhammadiyah Gunawan Budiyanto, Sekretaris LSB PP Muhammadiyah Faris Al Fadhat, sineas nasional sekaligus Dewan Pakar LSB PP Muhammadiyah Hanung Bramantyo, serta Asisten Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Provinsi DKI Jakarta Ali Maulana Hakim yang mewakili Gubernur DKI Jakarta.

Selain agenda persidangan, Rakernas juga menghadirkan berbagai pertunjukan seni sebagai implementasi dakwah kultural Muhammadiyah, mulai dari tari, musik, hingga pementasan lenong. Puncak pembukaan dimeriahkan penampilan yang melibatkan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sekaligus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti.

Melalui Rakernas ini, LSB PP Muhammadiyah menargetkan lahirnya arah kebijakan yang mampu memperkuat ekosistem seni budaya Muhammadiyah agar semakin kreatif, inklusif, dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Hasil forum tersebut diharapkan mempertegas posisi seni budaya sebagai salah satu instrumen strategis dakwah berkemajuan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.