Abdul Mu’ti Sebut Muhammadiyah Kokoh Jika Manhaj dan Tauhid Mengakar Kuat

Abdul Mu’ti Sebut Muhammadiyah Kokoh Jika Manhaj dan Tauhid Mengakar Kuat
Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu’ti dalam Pengkajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Tangerang, Kamis (26/2). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa kekokohan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh kekuatan manhaj atau metodologi gerak persyarikatan.

Hal itu disampaikannya saat mengulas QS. Ibrahim ayat 24–26 dalam Pengkajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Tangerang, Kamis (26/2).

Mengibaratkan organisasi seperti pohon yang rindang dan berbuah, Mu’ti menyebut akar sebagai fondasi utama. Dalam konteks agama, akar tersebut adalah tauhid, sedangkan dalam konteks persyarikatan, akar itu adalah Manhaj Muhammadiyah.

“Muhammadiyah menjadi kokoh kalau manhajnya kokoh,” ujarnya.

Menurutnya, manhaj tidak boleh berhenti pada tataran konsep, melainkan harus terlembaga dan terstruktur dalam seluruh sistem organisasi. Ia mengingatkan bahwa seluruh struktur Muhammadiyah, mulai dari pusat hingga cabang dan ranting, harus hidup dan bergerak dinamis.

“Semua struktur Muhammadiyah itu harus hidup. Kalau akarnya saja yang hidup, tidak akan berkembang. Kalau ada cabang dan ranting tetapi akarnya tidak kokoh, akan cepat tumbang,” jelasnya.

Mu’ti mencontohkan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) sebagai wujud konkret gerakan. Tanpa fondasi tauhid yang kuat, kata dia, amal usaha hanya akan menjadi gerakan sosial biasa dan kehilangan ruh keislamannya.

“Karena itu, akidah dan akar yang kokoh itulah yang membuat segala aktivitas bernilai ibadah,” terangnya.

Ia menambahkan, kekuatan struktur dan sistem organisasi menjadi salah satu faktor yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan lebih dari 113 tahun sejak berdiri pada 1912. Namun, usia panjang semata tidak cukup jika tidak menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.

“Organisasi ini harus mendatangkan manfaat dan maslahat. Kehadirannya harus berdampak. Kalau hanya indah untuk dirinya sendiri, tetapi tidak memberi dampak bagi kehidupan masyarakat, tidak berkontribusi terhadap kemajuan umat dan bangsa, maka Muhammadiyah belum menjadi Muhammadiyah,” tuturnya.

Karena itu, Mu’ti menegaskan bahwa amal Muhammadiyah harus memberi manfaat luas, layaknya pohon yang berbuah atau matahari yang menyinari tanpa membedakan. Amal usaha, lanjutnya, bukan sekadar social business, tetapi perwujudan iman dan amal saleh dalam kehidupan nyata.

“Amal usaha adalah bagian dari aktualisasi, konkretisasi, dan objektifikasi iman serta amal saleh,” tegasnya.