Majelis Tarjih dan Tajdid Susun Peta Jalan Kalender Hijriah Global Tunggal

Majelis Tarjih dan Tajdid Susun Peta Jalan Kalender Hijriah Global Tunggal
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mulai menyusun peta jalan pengembangan dan pengawalan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) melalui Halaqah KHGT yang digelar di UAD, Kamis (14/5/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mulai menyusun peta jalan pengembangan dan pengawalan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) melalui Halaqah KHGT yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan pada Kamis (14/5/2026).

Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Ketua PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar, dan diikuti para pakar falak, syariah, serta akademisi dari berbagai latar belakang keilmuan.

Dalam sambutannya, Syamsul menegaskan bahwa KHGT membutuhkan tim ahli yang bertugas mengawal pengembangan sistem kalender agar tetap relevan terhadap dinamika dan perkembangan ilmu pengetahuan.

“Kegiatan seperti ini merupakan bagian penting dalam pengembangan sistem kalender, karena setiap sistem kalender memiliki mekanisme pengawalan tersendiri. Misalnya, Kalender Ummul Qura,” kata Syamsul.

Menurutnya, pengawalan tersebut penting untuk merespons kemungkinan munculnya fenomena astronomi baru yang dapat memengaruhi kriteria penentuan kalender Hijriah global.

Syamsul mencontohkan pengalaman Kalender Maroko (Unifikasi) yang pernah diadopsi oleh Islamic World Educational Scientific and Cultural Organization. Kalender tersebut menggunakan kriteria sederhana berdasarkan waktu ijtima sebelum zuhur, namun dalam praktiknya ditemukan anomali ketika ditelusuri dalam perhitungan jangka panjang.

“Jadi dia punya kriteria sangat sederhana dan meyakinkan sekali, yaitu apabila ijtima terjadi sebelum zuhur, maka keesokan harinya adalah tanggal 1 di seluruh dunia. Ternyata kemudian ini menjadi masalah juga,” ujarnya.

Ia menjelaskan, anomali serupa sangat mungkin terjadi dalam implementasi KHGT sehingga diperlukan tim ahli yang terdiri dari pakar falak dan syariah untuk melakukan evaluasi secara berkelanjutan.

Ketua Panitia Halaqah KHGT sekaligus Anggota Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Rahmadi Wibowo, mengatakan forum tersebut bertujuan menghasilkan peta jalan KHGT sebagai pedoman pengembangan ke depan.

Menurut Rahmadi, peserta halaqah dipilih secara selektif melalui pengiriman abstrak makalah yang kemudian dipresentasikan dalam forum ilmiah tersebut.

Sementara itu, Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhammad Rofiq Muzakir, menyebut halaqah KHGT juga menunjukkan meningkatnya keterlibatan perempuan dalam bidang ilmu falak.

“Walaupun masih didominasi laki-laki, tapi sudah cukup banyak ini kehadiran perempuan. Ini menunjukkan bahwa pakar falak perempuan sudah cukup banyak,” tuturnya.

Ia berharap halaqah tersebut menjadi forum ilmiah yang inklusif sekaligus mempererat silaturahmi antarpeneliti dan akademisi dalam pengembangan kalender Islam global.

Dukungan terhadap pengembangan KHGT juga disampaikan Rektor UAD, Muchlas. Ia menilai halaqah menjadi momentum penting untuk mengevaluasi sekaligus memperkuat implementasi KHGT yang telah diluncurkan Muhammadiyah.

“Saya kira ini merupakan satu momentum yang sangat baik. Karena tadi saya sampaikan salah satunya adalah sebagai cara kita melakukan evaluasi dari apa yang sudah kita luncurkan,” katanya.

Menurut Muchlas, KHGT merupakan hasil riset panjang yang harus terus diverifikasi sesuai tradisi akademik Muhammadiyah dan perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Melalui halaqah tersebut, Muhammadiyah berharap KHGT dapat terus dikembangkan dan disosialisasikan secara lebih luas sebagai upaya menghadirkan sistem kalender Islam global yang lebih terintegrasi dan dapat digunakan umat Islam di berbagai negara.