Haedar Nashir: Muhammadiyah Utamakan Peace Building dalam Konflik Kemanusiaan ASEAN
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah sebagai organisasi nonpemerintah atau non-governmental organization (NGO) lebih mengedepankan pendekatan peace building atau membangun perdamaian dibandingkan peace making dalam menangani konflik kemanusiaan di kawasan ASEAN.
Pernyataan tersebut disampaikan Haedar dalam Sidang Terbuka Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Selasa (12/5/2026).
Sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi, Haedar menjelaskan bahwa peran menciptakan perdamaian secara formal atau peace making merupakan kewenangan negara dan lembaga internasional yang memiliki otoritas diplomatik serta politik.
“Kalau dianya menyeberang ke peace making, itu nggak bisa. Karena itu peran negara dan institusi-institusi yang punya otoritas,” ujar Haedar.
Menurutnya, organisasi masyarakat seperti Muhammadiyah lebih tepat mengambil peran membangun perdamaian melalui pendekatan kemanusiaan, pendidikan, dialog sosial, dan penguatan solidaritas masyarakat terdampak konflik.
Haedar mencontohkan keterlibatan Muhammadiyah dalam penanganan krisis kemanusiaan Rohingya. Meski memiliki posisi berbeda dengan pemerintah, Muhammadiyah tetap membangun kerja sama dan kolaborasi dalam membantu korban konflik.
Ia menilai proses penghentian konflik tidak mudah dilakukan karena melibatkan banyak kepentingan politik, ekonomi, dan geopolitik internasional.
“Bahwa kemudian kita tidak bisa menghentikan konflik, jangan kan ormas, negara pun tidak bisa menghentikan konflik sebesar itu,” katanya.
Haedar juga menyinggung berbagai konflik global yang hingga kini belum mampu dihentikan oleh lembaga internasional.
“Siapa yang bisa menghentikan Amerika, Israel menggempur Iran atau juga terjadi perang akibat aksi-aksi? Mestinya kan PBB atau lembaga-lembaga internasional yang punya otoritas,” sambungnya.
Karena itu, Haedar menilai kurang tepat apabila organisasi masyarakat dituntut untuk menghentikan perang secara langsung. Menurutnya, langkah yang dapat dilakukan organisasi kemasyarakatan lebih banyak berupa seruan moral, diplomasi kemanusiaan, dan penguatan solidaritas lintas bangsa.
Meski demikian, Muhammadiyah tetap aktif terlibat dalam berbagai upaya perdamaian. Haedar menyebut Muhammadiyah pernah mengambil peran lebih jauh dalam konflik di Filipina, meskipun tetap melalui jalur diplomasi pemerintah.
“Mungkin ada yang bisa waktu itu kita lakukan di Filipina, kita bisa peace making, tapi tetap lewat negara, lewat diplomasi ke Filipina maupun Indonesia. Jadi hanya itu yang bisa kita lakukan,” tuturnya.
Melalui pendekatan peace building, Muhammadiyah selama ini aktif dalam aksi kemanusiaan, pendidikan, layanan kesehatan, hingga pendampingan masyarakat di wilayah konflik sebagai bagian dari upaya membangun perdamaian berkelanjutan di tingkat regional maupun global.