PP Muhammadiyah Sosialisasikan Edaran Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat

PP Muhammadiyah Sosialisasikan Edaran Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat
Muhammadiyah menggelar sosialisasi Edaran tentang Imbauan Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat di Aula Masjid At-Tanwir, Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (7/5/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menggelar sosialisasi Edaran tentang Imbauan Efisiensi dan Budaya Hidup Hemat di Aula Masjid At-Tanwir, Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jakarta, Kamis (7/5/2026).

Kegiatan ini diikuti karyawan Sekretariat PP Muhammadiyah, staf unsur pembantu pimpinan, staf organisasi otonom tingkat pusat, serta seluruh karyawan yang berkantor di Pusat Dakwah Muhammadiyah Jakarta.

Melalui forum tersebut, PP Muhammadiyah menegaskan bahwa efisiensi bukan sekadar langkah sesaat untuk merespons tekanan ekonomi global. Di tengah dinamika geopolitik dunia, mulai dari konflik Iran–Amerika Serikat hingga Israel–Palestina yang berdampak pada ekonomi dan harga bahan bakar, efisiensi justru dipandang sebagai prinsip hidup berkelanjutan yang harus menjadi budaya organisasi.

Sekretaris PP Muhammadiyah, Izzul Muslimin, mengatakan efisiensi memiliki akar kuat dalam ajaran Islam, terutama melalui konsep qana’ah atau mencukupkan diri.

“Efisiensi adalah bagian dari ajaran Islam, khususnya konsep qana’ah, yakni mencukupkan diri,” kata Izzul.

Menurut dia, prinsip tersebut menekankan pemanfaatan sumber daya secara optimal, tidak berlebihan, namun juga tidak sampai menghambat produktivitas.

“Upaya efisiensi ini tidak hanya diterapkan di lingkungan kantor, tetapi juga di rumah masing-masing,” ujarnya.

Dalam sosialisasi tersebut, penggunaan kendaraan operasional menjadi salah satu fokus utama. PP Muhammadiyah untuk sementara membatasi penggunaan kendaraan berbahan bakar diesel. Kebijakan ini diambil menyusul persoalan teknis penggunaan biodiesel bersubsidi serta tingginya biaya bahan bakar non-subsidi seperti Pertamina Dex. Karena itu, penggunaan kendaraan non-diesel diprioritaskan, meski kendaraan diesel tetap dapat dipakai jika tidak tersedia alternatif.

Selain itu, konsumsi listrik juga menjadi perhatian serius. Berdasarkan evaluasi internal, rata-rata pengeluaran listrik bulanan di lingkungan kantor PP Muhammadiyah mencapai sekitar Rp30 juta. Angka itu bahkan sempat menyentuh Rp39 juta pada November 2025. Kenaikan tersebut diduga dipicu penggunaan 10 unit pendingin ruangan di area basement.

Untuk menekan beban biaya, pengaturan suhu pendingin ruangan menjadi salah satu langkah konkret yang didorong.

“Perlu ada standar suhu AC yang efisien agar penggunaan listrik lebih terkendali,” kata Izzul.

Edaran tersebut juga menekankan dua poin penting, yakni penghematan air, listrik, dan energi di setiap kantor, gedung, maupun perumahan, serta mendorong gaya hidup yang cukup, sehat, bersih, dan produktif.

PP Muhammadiyah menilai implementasi kebijakan tersebut membutuhkan koordinasi dengan pimpinan majelis dan lembaga agar penerapannya berjalan menyeluruh di semua lini organisasi.

Sementara itu, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan kebijakan efisiensi akan segera diterapkan secara nasional di seluruh unit organisasi Muhammadiyah.

“Surat edaran ini akan segera diimplementasikan secara nasional, tidak hanya di kantor, tetapi juga di majelis-majelis di seluruh Indonesia,” kata Hilman.

Ia menilai langkah efisiensi harus berjalan beriringan dengan evaluasi terhadap program-program rutin yang selama ini menyerap anggaran besar, tetapi belum menunjukkan progres signifikan.

“Program yang rutin berjalan perlu dievaluasi kembali agar penggunaan anggaran lebih efektif dan progresif,” ujarnya.

Hilman juga menyoroti pentingnya optimalisasi aset dan revitalisasi ruang-ruang yang belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu yang menjadi perhatian ialah fasilitas toilet yang selama ini dialihfungsikan sebagai tempat penyimpanan barang.

“Toilet yang digunakan sebagai gudang harus segera dikembalikan fungsinya sebagai fasilitas sanitasi yang layak,” tegasnya.

Menurut dia, penggunaan ruang yang tidak tepat bukan hanya berpotensi merusak fasilitas, tetapi juga menciptakan lingkungan kerja yang kurang higienis dan tidak profesional.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Hefinal Chairan, menegaskan budaya hemat memiliki landasan teologis yang kuat dalam ajaran Islam. Ia merujuk pada Surah Al-A’raf ayat 31 yang menekankan pentingnya moderasi dan larangan bersikap berlebihan.

“QS Al-A’raf ayat 31 menegaskan pentingnya moderasi, efisiensi, dan larangan bersikap berlebihan,” kata Hefinal.

Melalui sosialisasi ini, PP Muhammadiyah menegaskan bahwa budaya hemat bukan hanya soal penghematan anggaran, tetapi juga bagian dari tata kelola organisasi yang sehat, profesional, dan berkelanjutan. Di tengah tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, efisiensi diharapkan menjadi kebiasaan permanen yang memperkuat daya tahan organisasi.