Abdul Mu’ti Tekankan Tiga Fondasi Kemajuan Sekolah Muhammadiyah
TVMU.TV - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (Mendikdasmen RI), Abdul Mu’ti, menegaskan tiga fondasi utama yang perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan sekolah Muhammadiyah agar mampu tumbuh sehat, profesional, dan adaptif menghadapi perubahan zaman.
Pesan tersebut disampaikan saat pertemuan dengan jajaran Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Muhammadiyah dalam rangkaian peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Hotel Ketapang Indah, Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (2/5/2026).
Pertemuan itu dihadiri perwakilan Majelis Dikdasmen Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banyuwangi, serta sejumlah kepala sekolah Muhammadiyah.
Dalam forum tersebut, Abdul Mu’ti menekankan bahwa keberhasilan sekolah Muhammadiyah tidak hanya ditentukan oleh kualitas pembelajaran, tetapi juga oleh tata kelola kelembagaan yang sehat dan berintegritas.
Fondasi pertama adalah kemampuan mengelola konflik. Menurut dia, perbedaan pandangan dalam pengelolaan lembaga pendidikan merupakan hal yang wajar. Namun, jika tidak ditangani secara baik, kondisi tersebut dapat menghambat kemajuan sekolah.
“Dalam pengelolaan lembaga pendidikan tentu akan ada konflik atau perbedaan. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini dapat menghambat kemajuan lembaga,” ujar Mu’ti.
Fondasi kedua ialah menjauhi praktik korupsi. Abdul Mu’ti mengingatkan bahwa integritas menjadi unsur penting dalam menjaga kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Praktik korupsi, menurutnya, dapat merusak kredibilitas institusi sekaligus melemahkan sistem pendidikan.
Sementara fondasi ketiga adalah keterbukaan terhadap perubahan. Ia menilai sekolah yang tertutup terhadap kritik, saran, dan inovasi akan tertinggal di tengah perkembangan dunia pendidikan yang semakin dinamis.
“Jika tiga hal ini menjadi pegangan bersama, maka lembaga pendidikan Muhammadiyah akan tumbuh secara sehat, profesional, dan adaptif terhadap perkembangan zaman,” jelasnya.
Abdul Mu’ti menambahkan, sekolah Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial.
Pada akhir penyampaiannya, ia menegaskan bahwa hakikat pendidikan adalah proses memuliakan manusia. Sekolah, kata dia, harus menjadi ruang yang membantu peserta didik menemukan serta mengembangkan potensi terbaiknya.
“Pendidikan merupakan proses menemukan dan mengembangkan fitrah, kodrat alamiah manusia sebagai makhluk Tuhan yang mulia. Karena itu, inti pendidikan adalah memuliakan manusia, dan sekolah Muhammadiyah harus terus menjaga komitmen tersebut,” pungkasnya.
Momentum Hardiknas 2026 ini sekaligus menjadi pengingat bahwa sekolah Muhammadiyah di berbagai daerah dituntut terus memperkuat tata kelola, integritas, dan inovasi agar tetap relevan menjawab tantangan pendidikan masa depan.