Agus Taufiqurrahman Ungkap Resiliensi Mental Kunci Hadapi Lonjakan Gangguan Kejiwaan

Agus Taufiqurrahman Ungkap Resiliensi Mental Kunci Hadapi Lonjakan Gangguan Kejiwaan
Ketua PP Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman dalam ceramah tarawih di Masjid Islamic Center UAD, Yogyakarta, Ahad (23/2/2026). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrahman, menegaskan pentingnya membangun resiliensi mental di tengah meningkatnya persoalan kesehatan jiwa di Indonesia. Ia menyebut, ketahanan mental menjadi pilar utama daya juang seseorang dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern.

Hal itu disampaikan Agus dalam ceramah tarawih di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Ahad (23/2/2026).

Agus mengungkapkan, sekitar 28 juta masyarakat Indonesia diperkirakan mengalami gangguan kejiwaan dalam berbagai bentuk dan tingkatan. Angka tersebut, menurutnya, berpotensi terus meningkat seiring tekanan sosial, ekonomi, dan perubahan gaya hidup yang semakin kompleks.

Berangkat dari kondisi tersebut, ia menekankan bahwa membangun resiliensi mental harus diawali dengan proses mengenal diri secara mendalam, baik kekuatan maupun kelemahan yang dimiliki.

“Sampai ketika nanti mendapatkan cobaan, ia bisa menghadapi dengan baik. Atau ketika cobaan terasa terlalu berat, ia tetap bisa bangkit sehingga tidak terpuruk dalam permasalahan,” ujarnya.

Selain kesadaran diri, Agus menyebut sikap syukur dan sabar sebagai fondasi utama ketahanan mental. Menurutnya, ketika harapan terwujud, seseorang perlu mensyukurinya sebagai bentuk pengakuan atas janji Allah.

“Kalau sesuatu terjadi seperti yang kita inginkan, maka itu kita syukuri. Ketika kita mensyukuri janji Allah, la azidannakum, maka kenikmatan itu akan terus ditambah agar yang terjadi sesuai dengan yang kita harapkan,” ungkapnya.

Namun, ketika realitas tidak berjalan sesuai harapan, maka kesabaran menjadi kunci.

“Maka rumusnya adalah sabar,” tegasnya.

Agus menambahkan, menikmati kehidupan secara hakiki hanya dapat dicapai dengan menerima ketentuan Allah secara ikhlas dan lapang dada. Setiap peristiwa, menurutnya, menyimpan hikmah bagi mereka yang bersabar dan bersyukur.

Ia merujuk pada Surah Al-Baqarah ayat 286 yang menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.

“Yang harus kita lakukan ketika menghadapi cobaan adalah meyakini sepenuhnya bahwa ujian itu tidak akan melebihi kemampuan kita. Yakin pula bahwa Allah akan membimbing hamba-Nya yang mengenal-Nya dengan baik untuk melewati cobaan tersebut,” jelasnya.

Ceramah tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah meningkatnya tantangan kesehatan mental, penguatan spiritualitas, kesadaran diri, serta nilai syukur dan sabar menjadi bagian integral dalam membangun ketahanan individu dan masyarakat.