Busyro Muqoddas: Pemimpin Butuh Keseimbangan Kecerdasan dan Kejujuran
TVMU.TV - Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Busyro Muqoddas, menegaskan bahwa gelar akademik yang tinggi tidak cukup menjadi penentu kelayakan seseorang menjadi pemimpin. Menurutnya, yang lebih dibutuhkan adalah keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kejujuran.
Pesan ini disampaikan Busyro pada Ahad (4/1) dalam sebuah pertemuan di Muhammadiyah Boarding School (MBS) 3 Ngulankulon, Pogalan, Kabupaten Trenggalek.
“Situasi kehidupan kebangsaan saat ini membutuhkan sosok pemimpin yang kokoh kecerdasan dan kejujurannya. Tidak cukup menjadi pemimpin hanya berbekal sandangan gelar doktor maupun profesor,” tegas Busyro.
Busyro menyoroti fenomena imbalance atau ketidakseimbangan antara kecerdasan otak dan spiritualitas di kalangan akademisi saat ini. Akibatnya, banyak orang bergelar tinggi namun hidupnya tidak tenang.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya menyeimbangkan kedua sisi tersebut, terutama bagi seorang pemimpin. “Jasad dan spiritual, hati dan pikiran harus diseimbangkan. Terlebih jika seorang menjadi pemimpin, maka kedua sisi ini mutlak harus diseimbangkan jangan sampai timpang,” ujarnya.
Prinsip kejujuran dan kecerdasan, menurut Busyro, tidak hanya harus dimiliki individu, tetapi juga harus menjadi fondasi sebuah sistem, termasuk dalam penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu).
“Kalau pemimpin itu jujur, tidak usah repot-repot karena tinggal mengelola sumber daya alam termasuk air tadi,” katanya.
Namun, ia menyayangkan bahwa sistem pemilu di Indonesia masih memerlukan perbaikan radikal, tidak hanya di tingkat pusat tetapi hingga level pemilihan lurah.
Busyro mengungkapkan kekhawatiran mendalamnya. Jika yang dikedepankan hanya kecerdasan akal tanpa kemantapan spiritual, ia pesimis praktik korupsi dapat diberantas.
“Dirinya juga khawatir, jika yang dikedepankan adalah kecerdasan akal tanpa kemantapan spiritual, tindak korupsi di Indonesia semakin masif dan sulit dihilangkan,” pungkasnya.
Dengan pernyataan ini, Busyro Muqoddas mengingatkan bahwa kualifikasi kepemimpinan yang sesungguhnya terletak pada integritas moral yang sejalan dengan kapasitas intelektual.