Digelar di UM Palu November 2026, Tanwir Muhammadiyah Bakal Bahas Arah Gerak Organisasi 25 Tahun ke Depan

Digelar di UM Palu November 2026, Tanwir Muhammadiyah Bakal Bahas Arah Gerak Organisasi 25 Tahun ke Depan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir dalam acara Peluncuran Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu, (12/9). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah siap menggelar Tanwir periode 2022–2027 pada November 2026 mendatang di Universitas Muhammadiyah (UM) Palu, Sulawesi Tengah. Permusyawaratan tertinggi kedua setelah Muktamar ini menjadi momentum krusial untuk merumuskan arah gerak strategis Persyarikatan selama seperempat abad ke depan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Prof. Haedar Nashir, mengungkapkan bahwa Tanwir di Palu bakal menjadi permusyawaratan pamungkas untuk periode berjalan—di luar Tanwir yang menyatu dengan agenda Muktamar ke-49 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan, pada 2027 mendatang.

“Tanwir besok itu, kita akan membahas pertama, program-program Muhammadiyah buat 25 tahun ke depan,” ujar Haedar dalam acara Peluncuran Logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta pada Sabtu, 12 September 2026.

Haedar memaparkan, kerangka program strategis 25 tahunan yang dirancang Muhammadiyah sejak tahun 2000 kini telah memasuki fase akhir. Sebagai organisasi Islam yang telah melintasi usia 114 tahun, penyusunan peta jalan jangka panjang yang baru menjadi kebutuhan mutlak demi menjaga keberlanjutan dakwah dan tajdid.

Ia menekankan pentingnya konsistensi dalam mengeksekusi agenda organisasi agar tidak mangkrak di tengah jalan. Haedar berharap peta jalan baru Muhammadiyah beroperasi secara berkesinambungan dan tidak terputus di tengah jalan layaknya dinamika program pemerintah.

Mengusung tema “Bersama Satukan Bangsa”, gelaran Tanwir dan Peringatan Milad ke-114 ini juga membawa refleksi mendalam atas kondisi sosiopolitik dan ekonomi nasional. Haedar menyentil tajamnya perbedaan pandangan di ranah elite yang kerap memicu fragmentasi sosial.

“Dari kondisi itu sering terjadi perbedaan-perbedaan pandangan yang tajam yang mestinya kita bisa berdialog. Kita bisa mencari titik temu, mencari moderasi,” tegasnya.

Menurut Haedar, modal keinekaan Indonesia tidak cukup sekadar dirawat secara normatif, melainkan harus terus didinamisasi melalui dialog berkeadaban. Persatuan yang dibangun pun tidak boleh berhenti sebatas jargon, tetapi harus mewujud pada komitmen bersama untuk membangun peradaban bangsa yang berkemajuan.

“Maka kita ingin lewat Tanwir ini membawa pesan kebangsaan bahwa modal sosial bersatu kita itu tidak cukup dengan hal-hal yang given atau sudah tersedia atau normatif ada, tetapi perlu didinamisasi dalam menghadapi berbagai dinamika perbedaan,” kata Haedar.