Din Syamsuddin Jelaskan DNA Intelektual Muhammadiyah

Din Syamsuddin Jelaskan DNA Intelektual Muhammadiyah
Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar di UMY, Jumat (20/2/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005–2015, Din Syamsuddin, menegaskan bahwa Muhammadiyah bukanlah gerakan yang lahir dari satu aliran tunggal, melainkan hasil sintesis berbagai tradisi intelektual Islam yang membentuk karakter khas Persyarikatan.

Hal itu disampaikan Din dalam Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/2/2026).

Dalam paparannya, Din menjelaskan bahwa memahami genealogi Muhammadiyah berarti menelusuri “DNA intelektual” gerakan, yakni sumber-sumber pemikiran yang membentuk corak keagamaan Muhammadiyah yang berimbang antara pemurnian dan pembaruan.

Ia menyebut prinsip al-tawazun bayn al-tajrid wa al-tajdid sebagai fondasi pemikiran Muhammadiyah. Tajrid ditempatkan pada wilayah akidah dan ibadah mahdhah sebagai upaya pemurnian ajaran dengan kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah. Sementara tajdid diarahkan pada bidang muamalah dan urusan keduniaan yang membutuhkan pembaruan sesuai perkembangan zaman.

Menurut Din, keseimbangan keduanya menjadikan Muhammadiyah mampu menjaga kemurnian ajaran sekaligus terbuka terhadap kemajuan. Islam dipahami sebagai agama yang shalih li kulli zaman wa makan, relevan sepanjang ruang dan waktu.

Pengaruh Ulama Nusantara dan Dunia Islam

Din menegaskan, pemikiran Kiai Ahmad Dahlan tidak lahir dalam ruang kosong. Pendiri Muhammadiyah itu dipengaruhi sejumlah ulama Nusantara seperti KH Abu Bakar, Muhammad Shalih bin Umar as-Samarani (Saleh Darat), dan Ahmad Khatib al-Minangkabawi.

Saleh Darat dikenal sebagai ulama produktif yang menulis karya di bidang akidah hingga tasawuf. Karyanya, Tafsir Faidur Rahman, merupakan tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa yang diyakini pernah dipelajari Dahlan muda. Sementara Ahmad Khatib al-Minangkabawi, ulama besar Nusantara di Makkah, dikenal ahli fikih dan falak serta memiliki sikap kritis terhadap praktik tarekat tertentu dan kolonialisme.

Selain itu, arus pembaruan Islam global turut memberi pengaruh, terutama dari Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, dan Jamal al-Din al-Afghani. Gagasan rasionalisasi tauhid Abduh serta majalah Al-‘Urwat al-Wutsqa yang diterbitkannya bersama Al-Afghani pada 1884 menjadi inspirasi kebangkitan intelektual Muslim, termasuk di Indonesia.

Dalam aspek teologi, Din menyebut Muhammadiyah memiliki irisan dengan tradisi Asy’ariyah, pemikiran Ibnu Taimiyah, hingga ulama klasik seperti Al-Maqrizi. Namun orientasi salaf dalam Muhammadiyah, tegasnya, bukanlah tekstualisme kaku, melainkan ittiba’ al-rasul yang rasional.

Konsep al-kasb dalam teologi Asy’ariyah juga berkontribusi membentuk etos kerja dan tanggung jawab manusia sebagai bagian dari ajaran agama.

Akal dan Wahyu sebagai Pilar

Din menekankan pentingnya relasi akal dan wahyu dalam teologi Muhammadiyah. Mengikuti gagasan Abduh, akal dipandang sebagai instrumen utama memahami wahyu secara benar. Pendekatan ini melahirkan corak teologi yang rasional, menolak fatalisme, serta menentang takhayul, bid’ah, dan khurafat.

Ia merangkum sejumlah isu teologis utama Muhammadiyah, mulai dari tauhid, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, relasi agama dan akal, etos kerja dan peradaban (al-kasb wa al-hadharah), hingga teologi praksis Al-‘Ashr dan Al-Ma’un yang menekankan aksi sosial.

Menurut Din, paham keagamaan yang dirintis Ahmad Dahlan kemudian mengalami proses ideologisasi lebih sistematis pada era kepemimpinan KH Mas Mansur. Meski demikian, ideologi Muhammadiyah tetap bersifat terbuka dan dinamis.

“Genealogi Muhammadiyah menunjukkan bahwa gerakan ini sejak awal berdiri di atas dialog tradisi dan pembaruan,” tegas Din.

“Karena itu, Muhammadiyah harus terus bergerak sebagai gerakan tajdid yang berakar kuat pada tauhid sekaligus responsif terhadap realitas kehidupan," lanjutnya.