Habib Ja’far Berharap Muhammadiyah Terus Lanjutkan Jejak Kepeloporan KH Ahmad Dahlan
Habib Ja’far Al Hadar menyebutkan KH Ahmad Dahlan sebagai sosok pembeda praktik keagamaan di zamannya.
TVMU.TV - Habib Ja’far Al Hadar menyebutkan KH Ahmad Dahlan sebagai sosok pembeda praktik keagamaan di zamannya.
Habib Ja’far mengaku bukan orang baru di Muhammadiyah, apalagi di Lazismu Pusat. Ia tercatat pernah mengawangi Majalah Mata Hati milik Lazismu Pusat pada tahun 2015, sehingga dirinya kerap disebut sebagai habib berkemajuan.
Sebagai seorang yang berangkat dari lingkungan habaib, Habib Ja’far mengaku kagum dan belajar banyak tentang kontekstualisasi Agama Islam dalam memajukan kehidupan di lingkungan Muhammadiyah.
Khususnya dari sejarah KH Ahmad Dahlan, Habib Ja’far mencermati KH Ahmad Dahlan bisa disebut sebagai anomali seorang ulama yang mempraktikkan ajaran Agama Islam. Menurut Habib Ja'far, KH Ahmad Dahlan berhasil menafsirkan ayat Al Qur’an ke dalam aksi nyata.
“Karena memang religiusitas itu seringkali bahkan cenderung memang hanya diukur pada ritualitasnya di zaman itu. Sehingga orang itu disebut religius kalau secara ritual dia memang tampak menjalankan ritual-ritual,” katanya dalam acara Resepsi Milad ke-23 Lazismu di Kantor PP Muhammadiyah Jakarta, Rabu (23/7).
Maka di tengah situasi dan nilai serba banal itu, KH Ahmad Dahlan hadir mendorong agar kesalihan tidak hanya berhenti pada ritual dan personal. Tapi kesalihan didorong pada ruang lingkup yang lebih luas atau disebut sebagai kesalihan sosial.
Meski demikian, semangat yang dilakukan oleh KH Ahmad Dahlan pada masa kini sudah menjadi umum. Oleh karena itu, Habib Ja’far menilai ada tantangan baru yang perlu untuk dijawab Muhammadiyah.
“Tantangan yang ingin saya sebut sebagai psikologi Al Ma’un, bukan hanya teologi Al Ma’un. Tapi Lazismu harus bergerak pada ranah psikologi Al Ma’un,” katanya.
Habib Ja’far menjelaskan, psikologi Al Ma’un untuk menjawab realitas yang dihadapi oleh manusia sekarang terkait dengan isu-isu kesehatan mental. Sebab, isu kesehatan mental adalah isu yang besar di zaman sekarang.
“Secara kuantitatif, data yang ada di tahun 2023, 2024 itu menunjukkan angka 32 juta anak muda Indonesia itu mengalami masalah mental. Artinya satu dari sepuluh anak muda Indonesia itu memiliki masalah mental dengan ragam masalah,” katanya.
Mengutip beberapa sumber, Habib Ja’far menyebut masalah kesehatan mental anak muda di Indonesia disebabkan oleh tiga hal yaitu, suasana kantor yang toxic, pola parenting yang tidak sehat mental seperti kekerasan verbal maupun fisik, dan ekosistem digital yang tidak ramah.
Rendahnya kesehatan mental anak muda Indonesia, kata Habib Ja’far, kerap jadi pemicu kehidupan yang serba kacau – di sekolah dia bermasalah, dinikahkan akan bercerai, bekerja jadi tidak produktif, dan seterusnya.