Hadiah Nobel Netanyahu Buat Donald Trump

TVMU.TV - Dunia kian geram, karena Israel masih saja melakukan genosida terhadap warga Gaza. Sekitar 100 orang warga Gaza yang tidak berdosa, dibombardir tanpa ampun, ketika Iran menghentikan serangan ke Israel. Di waktu yang sama, Benjamin Netanyahu, bertemu Presiden Donald Trump di Washington DC, Senin, 7 Juli 2025 lalu.

Pertemuan dua komprador itu, bukan pertemuan biasa, tapi persengkolan, yang bukan saja membuat Timur Tengah makin jauh dari damai, tetapi dunia kian pesimistis Palestina akan terbebas dari penjajahan. Netanyahu mencari muka, dengan mengusulkan Donald Trump, mendapat hadiah Nobel. Trump dianggap berjasa besar bagi perdamaian dunia, karena antara lain mengupayakan gencatan senjata antara Iran, dengan Isrel dalam perang 12 hari, Juni 2025 lalu itu.

Netanyahu juga menyebutkan, proposal perdamaian trump atas aneksasi Gaza oleh Israel, disambut positif pihak Hamas. Trump dianggap memiki komitmen luar biasa dalam mendorong perdamaian, keamanan dan stabilitas dunia. Ironisnya, dunia menilai, usulan Netanyahu ini tak ubahnya dagelan diplomatik belaka.

Usulan sarkatis Netanyahu ini, juga dapat dimaknai sebagai bentuk balas budi Netanyahu kepada Trump, yang selalu mendukung pemimpin Israel haus darah itu, untuk membumihanguskan Gaza. Jelas kiranya, nominasi hadiah Nobel Perdamaian ini, selain merupakan bentuk dagelan diplomatik, sekaligus sebagai restu secara jangka panjang, agar Israel meneruskan pencaplokannya terhadap Palestina. Selain melanjutkan menggempur Gaza, pada hari pertemuan Netanyahu dan Trump, 7 Juli, Israel juga menyerang Yaman.

Sepekan setelah menyerang Yaman, Israel melanjutkan serangannya ke Gaza. Setelah menyerang Yaman dan Gaza lagi, Israel kemudian menyerang Damaskus. Ibu Kota Syiria. Mesin perang Israel menggempur Kementerian Pertahanan, dan instalasi militer Syiria di dekat Kompleks Kepresidenan Syiria, tanpa ada pihak yang dapat mencegah aksi agresi ini. Lagi-lagi, Donald Trump seolah menjadi pahlawan, membujuk Israel untuk menghentikan serangannya ke Syiria, yang sudah terlanjur menimbulkan kehancuran dan menelan korban jiwa itu.

Syiria belum lagi membereskan puing-puing akibat bom, Israel kembali mengebom Gaza. Menurut laporan Al Jazeera, Zionis Israel dilaporkan menewaskan sedikitnya 116 orang. Apabila Komite Nobel mengabulkan nominasi ini, alangkah ironisnya, karena Nobel Perdamaian itu, diusulkan oleh Netanyahu, orang yang dianggap sebagai penjahat perang, dan layak diseret ke Mahkamah Internasional. Tentu saja, tidaklah pantas, apabila ada tokoh yang dicap sebagai penjahat perang, menominasikan teman yang menyokongnya berbuat zalim  kepada manusia lainnya.