Haedar Nashir: Jejak Pemikiran Kiai Ahmad Dahlan Jadi Fondasi Ideologi Muhammadiyah Berkemajuan

Haedar Nashir: Jejak Pemikiran Kiai Ahmad Dahlan Jadi Fondasi Ideologi Muhammadiyah Berkemajuan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Darul Arqam Pimpinan UMS di MTs Muhammadiyah Krakitan, Bayat, Kabupaten Klaten, Rabu (7/1). Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa pemikiran dan keteladanan Kiai Ahmad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah menjadi rujukan utama ideologi Persyarikatan, baik dalam konteks keagamaan, politik, maupun kemanusiaan.

Penegasan tersebut disampaikan Haedar saat memberikan pengarahan dalam kegiatan Darul Arqam Pimpinan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang digelar di MTs Muhammadiyah Krakitan, Bayat, Kabupaten Klaten, Rabu (7/1).

Haedar menjelaskan, dalam aspek keagamaan, Muhammadiyah memiliki rujukan ideologis yang kuat dari berbagai teks yang bersumber langsung dari ajaran Kiai Dahlan. Rujukan tersebut berasal dari kitab-kitab yang ditulis para santri Kiai Dahlan, yang menghimpun pemikiran, ajaran, serta pidato-pidato beliau.

Salah satu rujukan penting, menurut Haedar, adalah pidato Kiai Dahlan berjudul Tali Pengikat Hidup. Dalam teks tersebut terkandung panduan mendasar tentang cara memahami ajaran Islam secara utuh dan mendalam.

“Di dalam ini mengajarkan bagaimana memahami ajaran agama, apa isinya, bagaimana cara memahaminya, bagaimana maksud ayat, dan seterusnya,” kata Haedar.

Berdasarkan penelusuran terhadap berbagai sumber yang sanadnya dapat dirujuk langsung kepada Kiai Dahlan, Haedar menyimpulkan bahwa ideologi Islam yang diajarkan pendiri Muhammadiyah itu bersifat berkemajuan, reformis, dan berorientasi pada tajdid atau pembaruan.

Beberapa teks utama yang dinilai penting untuk terus digali oleh warga Muhammadiyah antara lain Tujuh Ajaran Pikiran Pokok, Tujuh Belas Pokok Himpunan Al-Qur’an, serta pidato Tali Pengikat Hidup. Menurut Haedar, sebagian teks tersebut tidak hanya memuat pandangan keagamaan, tetapi juga mencakup dimensi kemanusiaan dan kebangsaan.

Namun demikian, Haedar mengakui bahwa sumber tertulis yang secara khusus membahas pandangan politik Muhammadiyah relatif terbatas. Meski begitu, sikap politik Muhammadiyah dapat ditelusuri melalui peristiwa sejarah, salah satunya dalam Rapat Tahunan Muhammadiyah tahun 1918 di Yogyakarta.

Dalam rapat tersebut, tokoh Sarekat Islam, Agus Salim, diberi kesempatan berorasi dan hampir memengaruhi peserta untuk mengarahkan Muhammadiyah menjadi organisasi politik. Bahkan, salah satu santri Kiai Dahlan, Kiai Hadjid, sempat tertarik dengan gagasan tersebut.

Meski tidak membantah secara langsung, Kiai Dahlan menolak dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang hakikat Islam dan dakwah Muhammadiyah.

“Apakah Islam itu?, apakah hakikat dakwah Islam lewat Muhammadiyah itu?, dan bagaimana kita membawa Islam untuk menjadi pedoman hidup masyarakat, dan Islam dianggap oleh sebanyak mungkin masyarakat,” kata Haedar menirukan pertanyaan Kiai Dahlan.

Melalui otoritasnya sebagai pimpinan Muhammadiyah saat itu, Kiai Dahlan kemudian mengetuk palu sidang. Sikap tersebut, menurut Haedar, menegaskan pilihan Muhammadiyah untuk tetap berada di luar politik praktis dan fokus pada dakwah serta pembaruan masyarakat.

Pada kesempatan itu, Haedar juga merekomendasikan sejumlah bacaan ideologis bagi warga Muhammadiyah, antara lain Khittah Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM), Dua Belas Langkah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MADM), Kepribadian Muhammadiyah, hingga Risalah Islam Berkemajuan.