‘Aisyiyah Gelar Konferensi Nasional Ulama Perempuan Pertama, Bahas Tafsir hingga Fikih Perempuan Berkemajuan

‘Aisyiyah Gelar Konferensi Nasional Ulama Perempuan Pertama, Bahas Tafsir hingga Fikih Perempuan Berkemajuan
PP ‘Aisyiyah menggelar Konferensi dan Silaturahmi Nasional I Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Senin (18/5/2026). Foto: muhammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Pimpinan Pusat (PP) 'Aisyiyah menggelar Konferensi dan Silaturahmi Nasional I Ulama ‘Aisyiyah di SM Tower Malioboro, Senin (18/5/2026).

Forum nasional pertama ulama perempuan ‘Aisyiyah ini menjadi ruang konsolidasi pemikiran keislaman untuk merespons berbagai isu keumatan dan kebangsaan dari perspektif Islam Berkemajuan.

Konferensi bertema “Konstruksi Pemikiran Ulama ‘Aisyiyah, Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan” tersebut diikuti peserta dari 38 Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah se-Indonesia secara luring dan daring.

Ketua Umum PP 'Aisyiyah, Salmah Orbayinah, mengatakan konferensi ini menjadi momentum penting memperkuat kontribusi ulama perempuan di tengah perubahan sosial yang semakin kompleks.

Menurutnya, perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat telah melahirkan tantangan baru bagi dunia keulamaan, bersamaan dengan meningkatnya persoalan sosial seperti krisis moral, polarisasi masyarakat, ketimpangan ekonomi, hingga kecenderungan generasi muda yang mulai menjauh dari nilai agama.

“Forum ini adalah ruang silaturahmi intelektual untuk melahirkan gagasan strategis dan langkah konkret bagi peran ulama ‘Aisyiyah dalam kehidupan berbangsa,” ujar Salmah.

Sementara itu, Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, menjelaskan konferensi tersebut menjadi bagian dari roadmap pengembangan ulama perempuan ‘Aisyiyah.

Menurutnya, ulama perempuan ke depan tidak hanya diharapkan menjadi muballighat, tetapi juga mujtahidah yang mampu merumuskan pandangan hukum Islam terhadap persoalan kontemporer.

Forum ini membahas sejumlah tema strategis, mulai dari tafsir tematik perempuan, fikih perempuan berkemajuan, kesehatan reproduksi, perlindungan perempuan dan anak, keluarga sakinah, hingga kepemimpinan perempuan dalam ruang publik.

Salah satu fokus utama pembahasan adalah pengembangan tafsir Al-Qur’an terkait kesetaraan laki-laki dan perempuan, kesehatan reproduksi, serta penguatan peran publik perempuan yang bebas kekerasan dan berlandaskan nilai rahmah.

Selain itu, peserta juga mendalami fikih perempuan berkemajuan melalui pendekatan Manhaj Tarjih Muhammadiyah yang integralistik agar mampu melahirkan pemahaman hukum Islam yang lebih inklusif dan tidak meminggirkan perempuan.

Dalam pemaparannya, Siti Aisyah turut menyampaikan lima karakter utama ulama ‘Aisyiyah, yakni memiliki kesalehan individual dan sosial, mampu menggerakkan masyarakat melalui ilmu dan fatwa, mendalami ilmu-ilmu keislaman, menguasai Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, serta memiliki pandangan wasathiyah atau moderat sesuai prinsip Islam Berkemajuan.

“Ke depan diharapkan ulama ‘Aisyiyah dapat menjadi pemberi fatwa, solusi, konsultan, dan peneliti bagi umat dan bangsa,” ujarnya.

Konferensi berlangsung sepanjang hari melalui sejumlah sesi tematik dan ditutup dengan sidang pleno yang merumuskan simpulan tafsir tematik perempuan berkemajuan serta fikih perempuan berkemajuan sebagai pijakan penguatan pemikiran ulama perempuan ‘Aisyiyah di masa depan.

Dalam kesempatan itu, PP ‘Aisyiyah juga menyampaikan rencana pembentukan asosiasi atau korps ulama ‘Aisyiyah sebagai ruang pengembangan keilmuan dan diskusi berkelanjutan bagi ulama perempuan di Indonesia.