Arianti Dina: Umat Islam Punya Tanggung Jawab Moral Menjaga Lingkungan dan Keadilan Sosial

Arianti Dina: Umat Islam Punya Tanggung Jawab Moral Menjaga Lingkungan dan Keadilan Sosial
Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah, Ariati Dina Puspitasari/ Foto: muammadiyah.or.id.

TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Nasyiatul Aisyiyah, Arianti Dina Puspitasari, menegaskan umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga keberlanjutan lingkungan sekaligus membangun kehidupan yang adil secara sosial dan ekologis.

Pernyataan tersebut disampaikan Arianti dalam International Seminar bertajuk From Grassroots to Policy: Young Women’s Leadership in Advancing Ecolivelihood for Sustainable and Just Societies yang digelar di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (16/5/2026).

Dalam pemaparannya, Arianti mengutip QS Ali Imran ayat 110 mengenai umat terbaik yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Menurutnya, nilai keimanan tidak hanya diukur melalui ibadah ritual, tetapi juga melalui kontribusi nyata terhadap manusia dan lingkungan.

“Umat Islam memiliki mandat moral untuk menciptakan sistem kehidupan yang tidak merugikan bumi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, konsep keberlanjutan dalam Islam menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertugas menjaga keseimbangan (mizan), menghadirkan kemakmuran, serta mencegah kerusakan (fasad).

Karena itu, praktik ekonomi berkelanjutan dinilai bukan sekadar isu lingkungan, melainkan bagian dari tanggung jawab keagamaan dan ibadah sosial.

Arianti menambahkan, PP Nasyiatul Aisyiyah terus memperkuat gerakan kepedulian lingkungan melalui program Green Nasyiah yang dijalankan di berbagai daerah, termasuk Solo dan Banyuwangi.

Program tersebut difokuskan pada peningkatan kesadaran lingkungan, penguatan kapasitas kader, hingga pengembangan kolaborasi komunitas berbasis pemberdayaan perempuan muda.

Selain itu, melalui program BUANA dan AKUNA, Nasyiatul Aisyiyah juga membekali kader dengan kemampuan kewirausahaan, pemasaran produk halal, kepemimpinan, komunikasi efektif, dan penguatan kerja sama tim guna mendukung pembangunan ekonomi inklusif serta target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Dalam seminar yang sama, Sekretaris Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) PP Muhammadiyah, Yayah Khisbiyah, menyoroti berbagai krisis global yang saling berkaitan, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan ekologis, hingga ketimpangan sosial dan konflik kemanusiaan.

“Keberlanjutan bukan hanya tentang memelihara alam, tetapi juga memelihara hubungan antara manusia dan alam semesta, antara komunitas dan keadilan,” katanya.

Yayah juga menekankan pentingnya pengakuan terhadap perempuan akar rumput yang selama ini aktif menjalankan gerakan sosial dan lingkungan, tetapi sering kali tidak terlihat dalam pengambilan kebijakan.

Menurutnya, tantangan global tidak cukup diselesaikan melalui diplomasi elite semata, melainkan membutuhkan kerja sama berbasis komunitas dan pengalaman kemanusiaan.

Melalui LHKI PP Muhammadiyah, Muhammadiyah juga mengembangkan program Palestinian Peace Building Labs yang berfokus pada penyembuhan trauma, dialog perdamaian, dan penguatan kepemimpinan non-kekerasan bagi pemuda Palestina.

“Forum seperti ini sejalan dengan visi Islam Berkemajuan Muhammadiyah yang membuka ruang kolaborasi, kepemimpinan perempuan, dan gerakan sosial lintas batas untuk menciptakan masa depan yang lebih berkeadilan dan berkelanjutan,” pungkas Yayah.