Majelis Tarjih dan Tajdid Perkuat Diplomasi Internasional untuk Wujudkan Kalender Hijriah Global Tunggal
TVMU.TV - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan dan menyosialisasikan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) melalui pendekatan akademik, teknologi, hingga diplomasi internasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam penutupan Halaqah KHGT yang digelar di Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Yogyakarta, Kamis (14/5). Forum akademik ini diikuti sekitar 70 peserta dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Medan, Bengkulu, Riau, Jakarta, Makassar, hingga Yogyakarta.
Sekretaris Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Muhamad Rofiq Muzakkir, mengatakan halaqah tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan akademisi dan pegiat KHGT dari berbagai disiplin ilmu. Dalam forum itu, peserta mempresentasikan kajian mengenai KHGT dari perspektif astronomi, psikologi, strategi komunikasi, hingga pengembangan perangkat lunak.
“Ini sebenarnya halaqah yang kedua. Tahun lalu sudah pernah kita adakan dalam format terbatas ketika Muhammadiyah belum secara resmi menggunakan KHGT,” ujar Rofiq.
Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar dengan format yang lebih besar dan waktu diskusi yang lebih panjang agar pembahasan akademik terkait kalender Islam global dapat dilakukan lebih mendalam.
Menurut Rofiq, perhatian masyarakat terhadap KHGT meningkat signifikan selama Ramadan lalu. Momentum tersebut dinilai menjadi ruang strategis untuk memperluas pemahaman publik mengenai penyatuan kalender Islam global.
Dalam kesempatan itu, Majelis Tarjih juga memberikan apresiasi kepada sejumlah pegiat media sosial dan dunia digital yang ikut mengenalkan KHGT kepada masyarakat, termasuk Ismail Fahmi.
“Ketika dunia virtual sedang bergemuruh, mereka mengambil peran. Itu patut diapresiasi sekaligus menjadi catatan bagi kita untuk terus belajar dan hadir ketika dibutuhkan,” katanya.
Selain membahas KHGT, forum tersebut juga menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Rofiq menegaskan Muhammadiyah tidak boleh bersikap antipati terhadap teknologi, melainkan harus mampu memanfaatkannya untuk kemaslahatan umat.
“AI itu sesuatu yang tidak terhindarkan. Kita menggunakan AI, tetapi tetap peran utamanya adalah akal pikir manusia,” ujarnya.
Ia menyebut Muhammadiyah selama ini telah aktif memasuki ekosistem digital, salah satunya melalui Universitas Siber Muhammadiyah yang dalam empat tahun terakhir disebut telah memiliki sekitar 5.000 mahasiswa.
Dalam pembahasan substantif terkait KHGT, Rofiq menjelaskan salah satu parameter penting dalam sistem tersebut adalah konsep ijtima qabla al-fajr, yakni terjadinya konjungsi sebelum waktu fajar di wilayah timur bumi. Menurutnya, konsep tersebut menjadi penentu awal puasa dan hari raya dalam sistem kalender global yang dikembangkan Muhammadiyah.
“Yang paling menentukan untuk kapan hari raya atau puasa adalah telah terjadi ijtima sebelum waktu fajar di bagian timur,” jelasnya.
Muhammadiyah juga terus memperluas komunikasi internasional terkait penyatuan kalender Islam global. Rofiq mengungkapkan pihaknya telah beberapa kali berdiskusi dengan Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), termasuk melalui pertemuan daring setelah Ramadan lalu.
Ia menyebut OKI mendorong Muhammadiyah untuk menjadi salah satu aktor utama dalam isu unifikasi kalender Hijriah dunia Islam. Namun, upaya tersebut harus ditempuh melalui jalur diplomasi antarnegara karena OKI merupakan organisasi tingkat negara.
“Kita akan bertemu dengan wakil menteri luar negeri yang berurusan dengan dunia Islam supaya isu penyatuan kalender Islam ini bisa kembali diangkat menjadi resolusi OKI,” katanya.
Selain dengan OKI, Muhammadiyah juga menjalin komunikasi dengan otoritas keagamaan Turki, Diyanet, untuk membahas sejumlah perbedaan teknis penentuan kalender, termasuk penggunaan pendekatan geosentrik dan toposentrik dalam perhitungan hilal.
Di tingkat nasional, Majelis Tarjih turut membuka ruang dialog dengan sejumlah organisasi Islam lain terkait penerapan KHGT. Salah satu organisasi yang disebut masih terbuka untuk berdiskusi adalah Mathla’ul Anwar.
“Siapa tahu mereka terbuka dengan peralihan ke KHGT sehingga Muhammadiyah tidak berdiri sendiri di Indonesia,” ujarnya.
Rofiq berharap halaqah tersebut tidak hanya memperkuat pemahaman ilmiah mengenai KHGT, tetapi juga mempererat silaturahmi antarakademisi dan pegiat kalender Islam di Indonesia.
“Walaupun acara hanya sehari, insyaallah ini menguatkan silaturahmi dan menambah ilmu di antara kita semua,” tuturnya.