Agus Taufiqurrohman Ajak Umat Jadikan Kurban sebagai Wujud Takwa dan Kepedulian Sosial
TVMU.TV - Menjelang Hari Raya Iduladha dan datangnya bulan Zulhijah, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Agus Taufiqurrohman, mengajak umat Islam menjadikan ibadah kurban sebagai sarana memperkuat ketakwaan kepada Allah sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Agus dalam Khutbah Jumat di Masjid KH Ahmad Dahlan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jumat (8/5/2026). Tanggal pada naskah awal tertulis 8/9, namun disesuaikan dengan konteks menjelang Zulhijah dan Iduladha 2026.
Dalam khutbahnya, Agus menjelaskan bahwa syariat kurban merupakan salah satu amalan utama pada bulan Zulhijah. Ia mengutip Surah Al-Kautsar yang berisi perintah Allah untuk mendirikan salat dan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk syukur atas nikmat-Nya.
“Bagi kita yang tidak berangkat ke Tanah Suci, penyembelihan hewan kurban menjadi pilihan terbaik untuk melaksanakan syariat Rasul dalam mengisi bulan Zulhijah,” ujarnya.
Menurut Agus, ibadah kurban memiliki kedudukan penting dalam ajaran Islam. Mayoritas ulama memandang kurban sebagai sunnah muakkadah atau amalan yang sangat dianjurkan bagi muslim yang mampu. Bahkan, kata dia, Imam Abu Hanifah berpendapat kurban bersifat wajib bagi mereka yang memiliki kemampuan.
Ia juga mengutip hadis Rasulullah saw. yang memberikan peringatan keras kepada orang yang mampu berkurban tetapi enggan melaksanakannya.
“Man wajada sa‘atan falam yudhahhi fala yaqrabanna mushallana,” ujarnya.
Agus menegaskan, kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan, melainkan panggilan tauhid yang harus dilandasi keimanan dan ketakwaan kepada Allah.
Ia mengutip firman Allah dalam Al-Qur’an, “Lan yanalallaha luhumuha wa la dima’uha walakin yanaluhut taqwa minkum,” yang menegaskan bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan dari hamba-Nya.
“Spirit kurban itu membangun kepedulian sosial. Dagingnya dibagikan kepada saudara-saudara kita dan menjadi bagian dari ajaran Islam untuk menghadirkan kepedulian di tengah masyarakat,” katanya.
Selain dimensi sosial, Agus juga menyoroti makna simbolik dari ibadah kurban. Menurutnya, manusia sejatinya diajak untuk “menyembelih” sifat-sifat kebinatangan dalam dirinya, seperti kekejaman, hilangnya rasa malu, dan ketidakmampuan membedakan yang benar dan salah.
“Kadang manusia bisa lebih kejam daripada hewan. Maka mari kita potong seluruh sifat-sifat hayawaniyah yang masih ada dalam diri kita,” tuturnya.
Ia menambahkan, keindahan Islam tampak pada keterhubungan antara ibadah kepada Allah dan dampak sosialnya. Ibadah kurban, kata Agus, dimulai dari panggilan tauhid, namun bermuara pada tumbuhnya solidaritas, kepedulian, dan kemanusiaan.
Menjelang Zulhijah, Agus mengajak umat Islam mempersiapkan ibadah kurban dengan sebaik-baiknya agar momentum Iduladha tidak hanya menjadi ritual tahunan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat iman dan memperluas manfaat sosial bagi sesama.