Haedar Nashir: Muhammadiyah Terhubung Gerakan Pembaruan Islam, tetapi Punya Distingsi
TVMU.TV - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki mata rantai historis dengan gerakan pembaruan Islam sejak era salaf hingga abad modern. Namun, ia menekankan bahwa Muhammadiyah tetap memiliki kekhasan atau distingsi yang tidak ditemukan dalam gerakan pembaruan sebelumnya.
Pernyataan itu disampaikan Haedar dalam Pembukaan Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Jumat (20/2/2026).
Menurut Haedar, semangat pembaruan Muhammadiyah secara genealogis merujuk pada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad. Jejak pembaruan itu, lanjutnya, memiliki irisan dengan tokoh-tokoh seperti Ibnu Taimiyah (1263–1328), Muhammad bin Abdul Wahab (1701–1793), hingga Muhammad Abduh (1849–1905).
“Pasca kekalahan Baghdad, tradisi Islam kuat dipengaruhi Mongol yang lebih kepada hal-hal yang mitologis,” ungkap Haedar.
Ia menjelaskan, dalam konteks sosial-politik pascakejatuhan Baghdad tahun 1258, muncul praktik-praktik keagamaan yang dinilai menyimpang, termasuk pengagungan berlebihan terhadap kuburan tokoh tertentu. Situasi itu melatarbelakangi Ibnu Taimiyah menulis Kitabul Iman sebagai upaya pemurnian ajaran Islam.
“Latar belakang ini menguatkan alasan Kitabul Iman untuk memurnikan ajaran Islam sebagaimana gerakan salafi awal,” ujarnya.
Menurut Haedar, karya Ibnu Taimiyah tersebut kemudian menginspirasi Muhammad bin Abdul Wahab yang menulis Kitabut Tauhid pada abad ke-18. Gerakan yang dibawanya berkembang luas dan menjadi rujukan sejumlah kelompok salafi di berbagai negara.
Namun, Haedar menekankan bahwa setiap gerakan pembaruan lahir dalam konteks sosial yang berbeda. Jika Ibnu Taimiyah merespons pengaruh Mongol dan praktik keagamaan tertentu, maka Muhammad bin Abdul Wahab menghadapi maraknya praktik syirik, tabarruk, dan penyimpangan akidah di zamannya.
Selain itu, Haedar menyebut pembaruan Islam yang diusung Muhammad Abduh juga memiliki irisan kuat dengan Muhammadiyah. Majalah Urwatul Wustha yang diterbitkan Abduh bersama Jamaluddin al-Afghani pada 1884 menjadi media penyebaran gagasan pembebasan dari kolonialisme Barat dan berpengaruh luas di dunia Islam, termasuk Indonesia.
“Dari situ kemudian api pembaruan Islam menyebar ke seluruh dunia, termasuk ke Indonesia dan Muhammadiyah kerap dihubungkan dengan semangat pembaruan yang dilakukan oleh Muhammad Abduh,” imbuh Haedar.
Meski memiliki kesinambungan historis, Haedar menegaskan Muhammadiyah yang didirikan Kiai Ahmad Dahlan pada 1912 mempunyai kekhasan tersendiri. Salah satu yang paling menonjol adalah pendirian gerakan perempuan ‘Aisyiyah sebagai bagian integral dari dakwah dan pembaruan Islam.
Mengutip pandangan Prof. Mukti Ali, Haedar menjelaskan bahwa perhatian terhadap perempuan dalam Muhammadiyah tidak berhenti pada diskursus, melainkan diwujudkan dalam gerakan nyata melalui ‘Aisyiyah.
Kekhasan lain adalah lahirnya Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang berlandaskan spirit Surah Al-Ma’un, berupa pelayanan pendidikan, kesehatan, dan sosial yang terorganisir secara modern.
“Ada mata rantai tersambung antara Muhammadiyah dengan pemikiran gerakan pembaruan Islam sebelumnya. Namun juga ada kekhasan atau distingtif yang berbeda – dan itu tidak ditemukan akarnya dari pemikiran Islam sebelumnya,” pungkas Haedar.
Melalui Pengajian Ramadan 1447 H, PP Muhammadiyah menegaskan kembali posisi Islam Berkemajuan sebagai fondasi ideologis gerakan, yang berpijak pada pemurnian akidah sekaligus diwujudkan dalam aksi sosial dan pemberdayaan umat secara nyata.