Hamim Ilyas: Tauhid Hadirkan Kebahagiaan dan Kebenaran dalam Islam Berkemajuan
TVMU.TV - Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Hamim Ilyas, menegaskan bahwa tauhid menjadi fondasi utama Islam dalam menghadirkan kebahagiaan sekaligus kebenaran sejati bagi kehidupan manusia.
Pernyataan tersebut disampaikan Hamim dalam sesi keempat Pengajian Ramadan 1447 Hijriah PP Muhammadiyah yang digelar di UMY Student Dormitory, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (21/2/2026).
Dalam pemaparannya, Hamim menjelaskan bahwa Muhammadiyah menganut konsep Akidah Islam Berkemajuan yang telah hidup dan menggerakkan organisasi beserta warganya. Dalam konstruksi tersebut, kehadiran Allah yang bersifat fungsional dirumuskan dalam dua konsep tauhid, yakni tauhid rahamutiyah dan tauhid murni.
Merujuk pada Surah Al-An’am ayat 12, ia menerangkan bahwa tauhid rahamutiyah adalah keyakinan bahwa Allah Yang Maha Esa mewajibkan atas diri-Nya sifat rahmah atau kasih sayang. Sifat tersebut menjadi inti dari seluruh af‘al, sifat, dan asma Allah.
“Sementara tauhid murni sebagaimana dijelaskan dalam QS Al-An’am ayat 82 adalah keimanan yang tidak tercampur dengan kezaliman,” jelasnya.
Menurut Hamim, tauhid yang kokoh akan melahirkan masyarakat yang aman dan damai, menuntun manusia pada shirath al-mustaqim, serta memudahkan terwujudnya berbagai kebaikan dalam seluruh aspek kehidupan.
Ia menambahkan, fondasi akidah itu berakar pada iman yang kuat. Keimanan yang kokoh, lanjutnya, akan melahirkan amal saleh, membebaskan manusia dari kerugian (khusr), serta menghadirkan hayah thayyibah—kehidupan yang baik, sejahtera, dan membahagiakan.
Hamim juga merujuk Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah sebagai landasan ideologis gerakan. Dokumen tersebut memuat sejumlah variabel fundamental, yakni ilahiyat (ketuhanan), insaniyat (kemanusiaan), diniyat (keagamaan), ittiba’ Nabi, amar makruf nahi munkar, serta wathaniyat atau komitmen kebangsaan dengan menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai dar al-‘ahdi wa al-syahadah.
Menurutnya, keenam variabel tersebut menjadi kerangka ideologis Muhammadiyah dalam membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya sekaligus berkeadaban dan berkemajuan.
Pengajian Ramadan 1447 H PP Muhammadiyah menjadi forum konsolidasi ideologis bagi Persyarikatan dalam mempertegas posisi Akidah Islam Berkemajuan, tidak hanya sebagai rumusan teologis, tetapi juga sebagai fondasi praksis sosial dan kebangsaan.