Jelang Munas Tarjih XXXIII di Surabaya, Muhammadiyah Susun Risalah Akidah Berbasis Teologi Harapan

Jelang Munas Tarjih XXXIII di Surabaya, Muhammadiyah Susun Risalah Akidah Berbasis Teologi Harapan
Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mematangkan penyusunan Risalah Akidah Islam Muhammadiyah untuk merespons krisis kemanusiaan, persoalan lingkungan, hingga tantangan era digital dari perspektif Islam Berkemajuan. Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mematangkan penyusunan Risalah Akidah Islam Muhammadiyah untuk merespons krisis kemanusiaan, persoalan lingkungan, hingga tantangan era digital dari perspektif Islam Berkemajuan.

Kajian strategis tersebut menjadi salah satu agenda utama yang bakal dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) Tarjih ke-XXXIII di Universitas Muhammadiyah Surabaya pada 5–7 November 2026 mendatang.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Dr. Ustadi Hamsah, M.Ag., menggarisbawahi bahwa pemahaman tauhid sudah saatnya bertransformasi dari sekadar diskursus teosentris menjadi landasan etik yang solutif bagi problem riil masyarakat.

“Akidah harus bertransformasi. Kita berakidah itu berhadapan dengan konteks yang lebih kontemporer. Masalahnya tidak hanya tentang Tuhan, tetapi juga tentang kemanusiaan, alam, krisis, dan macam-macam,” ujar Ustadi Hamsah dalam program Lensamu Podcast di Yogyakarta, Senin, 2 November 2026.

Ustadi memaparkan tiga alasan utama di balik perumusan risalah ini: kedudukan akidah sebagai fondasi dakwah Persyarikatan, kebutuhan akan panduan imaniah yang responsif terhadap krisis sosial-ekonomi, serta pentingnya benteng etika di tengah kompleksitas era digital.

Di ruang siber, lanjutnya, tauhid berfungsi menjadi kompas moril untuk menyaring disinformasi dan memandu keadaban publik melalui pendekatan intersubjektif—mempertemukan teks keagamaan dengan realitas zaman.

“Akidah sebagai sistem nilai itu salah satu fungsinya memfilter. Bisa memberi pertimbangan, oh ini baik, ini buruk. Oh, ini wajar, ini tidak,” ungkapnya.

Lebih jauh, Ustadi merinci dua orientasi utama dalam Risalah Akidah Islam Muhammadiyah, yakni rahamutiyah (etos kasih sayang dan empati kemanusiaan) serta taqaddumiyah (orientasi kemajuan dan kesejahteraan). Kombinasi kedua orientasi tersebut melahirkan theology of hope atau teologi harapan.

“Karena kita sedang hidup di dunia, maka akidah kita harus bisa menjawab problem-problem kehidupan dunia. Menyejahterakan, menggembirakan, menyenangkan, dan solutif,” tegas Ustadi.

Melalui perumusan Risalah Akidah Islam pada Munas Tarjih XXXIII di Surabaya, Muhammadiyah berkomitmen menghadirkan rekonstruksi pemikiran Islam yang membumi, memberi kepastian ajaran, serta menggerakkan kemaslahatan peradaban.