Lewat Program SMILE, ‘Aisyiyah Perkuat Peran Perempuan dan Pemuda dalam Gerakan Lingkungan Lintas Iman

Lewat Program SMILE, ‘Aisyiyah Perkuat Peran Perempuan dan Pemuda dalam Gerakan Lingkungan Lintas Iman
Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) bertajuk “Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme” yang disiarkan di tvMu dan YouTube tvMu Channel, Jumat (2/1).

TVMU.TV - Program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) ‘Aisyiyah Jawa Barat mengangkat tema penting tentang peran perempuan dan pemuda dalam isu lingkungan melalui lensa ekofeminisme. Dalam kegiatan bertajuk “Memperkuat Inisiatif Pemimpin Pemuda Lintas Agama melalui Ekofeminisme”, ‘Aisyiyah menegaskan bahwa merawat bumi adalah bagian dari menegakkan keadilan, khususnya bagi kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.

Acara yang disiarkan di tvMu dan YouTube tvMu Channel, Jumat (2/1), ini menghadirkan Dzikrina Farah Adiba, Program Manager SMILE Eco Bhinneka Muhammadiyah sekaligus Wakil Sekretaris LLHPB PP ‘Aisyiyah, dengan moderator Andi Malaka dari Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (PWA) Jawa Barat.

Farah Adiba menekankan bahwa krisis lingkungan tidak bisa dipisahkan dari isu keadilan sosial. “Ekofeminisme mengingatkan kita bahwa perempuan memiliki peran penting dalam menjaga bumi. Mereka sering paling terdampak sekaligus menjadi penggerak perubahan di keluarga dan komunitas,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa dampak perubahan iklim dan kerusakan alam paling keras dirasakan oleh kelompok rentan, termasuk perempuan, anak-anak, difabel, dan lansia.

Farah menegaskan bahwa kerja sama antarumat beragama dalam isu lingkungan bukanlah pengaburan akidah, melainkan penyamaan kepedulian untuk merawat kehidupan bersama. Prinsip ini, menurutnya, selaras dengan ajaran Islam untuk tolong-menolong dalam kebajikan.

Program SMILE yang ia pimpin merupakan wujud nyata dari prinsip ini, dengan melibatkan pemuda lintas agama dalam tiga pilar: edukasi lingkungan (eco-literacy), kewirausahaan sosial berbasis lingkungan (eco-sociopreneurship), serta advokasi dan kampanye keadilan iklim.

Bagi ‘Aisyiyah, pesan ekofeminisme harus diwujudkan dalam tindakan konkret. “Kesadaran ini bisa dimulai dari rumah dan lingkungan sekitar, sehingga kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari,” kata Farah.

Ia mencontohkan program Pasarku Tempat Ibadahku serta Panduan Green Ramadan dan Idulfitri yang mendorong para ibu mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan.

Amalia Nur Milla, Anggota Pimpinan LLHPB PWA Jawa Barat, menyoroti peran krusial perempuan sebagai penentu keberlanjutan generasi mendatang. Ia mengungkapkan bahwa ‘Aisyiyah Jabar telah memiliki dua buku panduan pendukung, yaitu Islamic Green School dan kumpulan kultum tentang lingkungan.

“Semoga inisiatif-inisiatif seperti ini bisa semakin meluas,” harap Amalia, sambil menekankan pentingnya kolaborasi lintas majelis dan lembaga di ‘Aisyiyah agar setiap aksi, seperti pengelolaan sampah, juga bisa menjadi sumber manfaat ekonomi.

Moderator Andi Malaka menutup diskusi dengan penegasan bahwa krisis iklim adalah cermin ketimpangan relasi kuasa. Oleh karena itu, program seperti SMILE yang melibatkan komunitas dan pemuda lintas agama adalah praktik amar ma'ruf nahi munkar yang langsung menyentuh akar persoalan.