Makna Tradisi Kupatan Usai Idulfitri, Simbol Maaf dan Nilai Islam dalam Budaya Jawa

Makna Tradisi Kupatan Usai Idulfitri, Simbol Maaf dan Nilai Islam dalam Budaya Jawa
Ilustrasi/ Foto: Istimewa.

TVMU.TV - Tradisi Kupatan yang berkembang di kalangan masyarakat Muslim Jawa pasca-Idulfitri tidak sekadar menjadi perayaan budaya, tetapi juga sarat makna religius dan sosial. Tradisi yang identik dengan hidangan ketupat ini dimaknai sebagai simbol pengakuan kesalahan dan saling memaafkan setelah menjalani ibadah Ramadan.

Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Jainuri, menjelaskan bahwa Kupatan merupakan bagian dari strategi dakwah para tokoh Islam terdahulu dalam menyampaikan ajaran Islam melalui pendekatan budaya lokal masyarakat Jawa.

“(Kupat) itu tidak masalah, itu kan upaya-upaya orang kita dahulu dalam rangka untuk mentransmisikan Islam itu kepada masyarakat Jawa dengan menggunakan bahasa budaya lokal,” kata Ahmad Jainuri saat menyampaikan materi di Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA), Ahad (29/3).

Menurutnya, tradisi ini mencerminkan kesadaran manusia akan keterbatasan dan potensi kesalahan yang dimiliki setiap individu. Momentum Kupatan, lanjutnya, menjadi ruang untuk saling memaafkan dalam bingkai halal bihalal.

“Dari kelemahan itu mendorong kita tanpa sadar melakukan kesalahan-kesalahan. Jadi karena itu kemudian ada momen upaya dalam rangka untuk mengaku salah itu. Itulah momen ini yang kemudian dalam tujuan yang terakhir di dalam halal bi halal ini yaitu saling memaafkan,” tuturnya.

Secara simbolik, ketupat yang terbuat dari anyaman janur memiliki makna filosofis yang dalam. Istilah “kupat” dimaknai sebagai “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Selain itu, janur diartikan sebagai “ja’a nur” yang berarti datangnya cahaya atau petunjuk setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh.

Anyaman ketupat yang saling silang juga menggambarkan kompleksitas kehidupan manusia yang penuh rintangan. Dalam kondisi tersebut, manusia dianjurkan untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT.

“Di situlah kemudian manusia disarankan untuk meminta petunjuk Allah,” ujarnya.

Sementara itu, isi ketupat berupa beras putih melambangkan fitrah manusia yang kembali suci setelah Ramadan. Bentuk ketupat yang menyerupai segi empat juga dimaknai sebagai filosofi “papat kiblat limo pancer”, yakni empat arah mata angin dengan satu pusat, yang mengingatkan manusia akan tujuan akhir kehidupan kepada Allah SWT.

Tradisi Kupatan juga mengandung nilai “laku papat”, yakni lebaran (merayakan hari raya), luberan (berbagi rezeki), leburan (saling memaafkan), dan laburan (membersihkan diri serta lingkungan).

Ahmad Jainuri menegaskan bahwa ajaran Islam, khususnya dalam perspektif Muhammadiyah, tidak hanya dimaknai sebagai praktik ibadah ritual, tetapi juga memiliki dimensi sosial dan budaya yang luas. Nilai-nilai tersebut, kata dia, menjadi landasan dalam berbagai gerakan sosial keumatan yang dikembangkan Muhammadiyah hingga saat ini.